Logo JawaPos
Author avatar - Image
31 Maret 2026, 00.11 WIB

Imbas Perang Iran Vs AS-Isarel, G7 Akan Gelar Pertemuan untuk Tekan Harga Minyak

Kapal kargo berlayar di Teluk dekat Selat Hormuz. Iran menyatakan jalur vital energi itu terbuka bagi negara-negara sahabat mereka. (The Guardian) - Image

Kapal kargo berlayar di Teluk dekat Selat Hormuz. Iran menyatakan jalur vital energi itu terbuka bagi negara-negara sahabat mereka. (The Guardian)

JawaPos.com - Selat Hormuz ditutup di tengah perang antara Iran melawan AS-Israel. Akibatnya distribusi energi di berbagai negara pun mulai mengalami kelangkaan.

Menanggapi hal ini, Kelompok Tujuh negara industri maju (G7) dijadwalkan mengadakan pertemuan daring pada Senin waktu setempat. Hal ini dilakukan dalam rangka membahas langkah-langkah mengatasi kenaikan harga minyak mentah, di tengah perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Dilansir dari Antara, Senin (30/3), pertemuan tersebut akan melibatkan menteri keuangan, menteri energi, serta gubernur bank sentral. Salah satu agenda yang diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan virtual G7 tersebut, adalah tambahan pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi, yang saat ini tengah dipertimbangkan oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Menyusul konflik di Timur Tengah yang dilancarkan oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir bulan lalu, pasukan Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz, jalur laut penting bagi transportasi minyak global, yang menyebabkan gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak mentah.

Awal bulan ini, IEA, sebuah badan yang berbasis di Paris dan beranggotakan 32 negara termasuk negara-negara G7, mulai melepaskan cadangan minyak mereka yang totalnya melebihi 400 juta barel. Upaya tersebut merupakan langkah bersama pertama sejak tahun 2022 ketika Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.

Dari total produksi minyak yang dikoordinasikan oleh IEA tersebut, sebanyak 79,8 juta barel berasal dari Jepang, negara terbesar kedua di antara anggota IEA setelah Amerika Serikat yang menyumbang 172,2 juta barel, menurut data IEA.

Jepang sendiri bergantung pada Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya.

Para menteri keuangan G7 telah mengadakan pembicaraan pada 9 Maret dan disusul oleh pertemuan menteri energi keesokan harinya, dengan kesepakatan untuk “siap” mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Dipimpin oleh Prancis tahun ini, G7 juga terdiri dari Inggris, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, serta Uni Eropa.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore