
Bentuk desain eksterior dari Pick-Up Mahindra parbrikan buatan India yang akan di gunakan oleh Koperasi Merah Putih terparkir di Gedung Agrinas, Jakarta, Kamis (12/03/2026). (Hanung/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Sejumlah massa yang tergabung dalam Komite Aksi Pemuda Anti Korupsi (KAPAK) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (6/4). Mereka mendesak KPK segera menyelidiki dugaan korupsi dalam rencana impor 105.000 mobil pikap dari India yang disebut akan digunakan untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih.
Dalam aksinya, massa meminta agar KPK tidak tinggal diam terhadap dugaan kasus yang berpotensi merugikan negara. Mereka juga mendorong lembaga lain untuk turut bertindak, seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan membentuk Panitia Khusus (Pansus) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit investigatif.
Aksi sempat memanas ketika massa membakar spanduk terkait dugaan korupsi di PT Agrinas Pangan Nusantara.
“Aksi ini merupakan langkah simbolis agar KPK segera menyelidiki dugaan korupsi dalam impor 105.000 mobil pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara,” kata Koordinator aksi, Adib Alwi.
Menurut Adib, rencana impor mobil pikap dalam jumlah besar tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Ia menilai, proses pengadaan yang minim transparansi, urgensinya tidak jelas, dan berpotensi menimbulkan kerugian negara.
Ia pun mempertanyakan sejumlah hal mendasar, seperti alasan impor dibandingkan produksi dalam negeri, besarnya jumlah pengadaan, serta pihak-pihak yang diuntungkan dari proyek tersebut.
Selain itu, publik disebut tidak mendapatkan penjelasan menyeluruh terkait skema pembiayaan proyek, apakah menggunakan APBN, penugasan BUMN, atau skema lain yang berpotensi membebani keuangan negara secara tidak langsung.
Adib menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi tata kelola pemerintahan. Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus, korupsi kerap berawal dari perencanaan pengadaan yang dipaksakan tanpa berbasis data kebutuhan riil.
Ia pun mengungkap sejumlah indikasi masalah dalam rencana impor tersebut, antara lain, tidak adanya kajian publik yang transparan terkait kebutuhan 105.000 unit mobil, ketidakjelasan mekanisme distribusi kepada koperasi, serta minimnya keterlibatan industri otomotif nasional.
Menurutnya, jika hal ini dibiarkan, maka berpotensi mengulang pola lama proyek besar yang berujung pada pemborosan atau bahkan kerugian negara.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
