Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 Oktober 2021, 19.08 WIB

Penjelasan Dokter Soal Mitos Keliru tentang Biopsi Kanker Payudara

Ilustrasi kanker payudara. - Image

Ilustrasi kanker payudara.

JawaPos.com - Seseorang bisa saja merasakan benjolan atau curiga pada keanehan di area payudara. Jangan anggap remeh dan menunda periksa ke dokter, sebab pasien umumnya merasa takut untuk memeriksakan diri. Deteksi dini kanker payudara umumnya dilakukan dengan biopsi. Namun ada satu pandangan yang keliru atau mitos tentang biopsi.

Dalam diskusi virtual 'Bersama Melangkah, Meraih Harapan' yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan Bulan Peduli Kanker Payudara oleh Cancer Information and Support Center Association (CISC) dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk menjelaskan mitos yang beredar di masyarakat soal biopsi. Masih ada masyarakat yang menganggap kalau menyebabkan kanker menyebar atau pecah dan biopsi menyebabkan tumor yang tadinya jinak menjadi ganas

"Itu tidak benar, biopsi tidak membuat tumor menjadi ganas, menyebar, atau pecah," tegasnya baru-baru ini.

Menurutnya ada 2 sifat tumor, yaitu jinak dan ganas (kanker), dan biopsi tidak akan mengubah sifat tumor tersebut. Sangat kecil kemungkinan kanker menyebar akibat jarum biopsi (<1 persen) dan risiko tersebut dapat diturunkan dengan teknik biopsi yang dipandu radiologi USG (ultrasonografi).

"Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi merupakan baku emas dalam diagnosis kanker payudara sehingga biopsi diindikasikan pada pasien dengan massa curiga ganas," katanya.

Biopsi juga dianjurkan pada pasien dengan klinis yang mengarah pada kecurigaan kanker payudara tetapi hasil pencitraannya kurang konklusif (massa indeterminate). Ragam metode biopsi terdiri dari Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) atau Fine-Needle Aspiration Biopsy (FNAB), Biopsi jarum inti (Core Biopsy) dengan panduan USG. Dan Biopsi operasi terbuka (eksisi/insisi).

Menurutnya pengobatan bagi setiap kanker payudara sangat bervariasi tergantung pada karakteristik kanker
dan kebutuhan pasien, dan bisa sangat efektif hingga mencapai probabilitas harapan hidup hingga 90 persen atau lebih tinggi ketika penyakit ini diidentifikasi lebih awal. Pengobatan utama kanker payudara yang ditemukan dalam stadium dini (stadium awal) adalah pembedahan atau operasi.

“Banyak pasien yang datang pada saya dengan kekhawatiran payudaranya akan diambil seluruhnya. Yang perlu diketahui sebenarnya pengobatan untuk kanker payudara terus berkembang, menawarkan pilihan yang lebih banyak kepada pasien dan hasil yang lebih baik. Mendapatkan tumor di payudara tidak berarti harus mengangkat payudara seluruhnya," katanya.

Operasi kanker payudara terdiri dari mastektomi yaitu pengangkatan keseluruhan payudara, atau lumpektomi disebut juga breast conserving surgery yaitu pengangkatan sebagian payudara dan/atau jaringan di sekitar payudara. Banyak kasus kanker payudara dapat diobati dengan terapi sistemik neoadjuvan sebelum operasi, kemudian operasi dilakukan dengan mengangkat tumor itu sendiri dan beberapa jaringan di sekitarnya.

"Hal ini bisa menjadi salah satu pilihan pengobatan bagi pasien di stadium dini yang memenuhi kriterianya dari hasil diagnosis,” tutup dr. Farida.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore