
Ilustrasi orang yang terlihat kekanak-kanakan dan tidak dewasa. (Freepik)
JawaPos.com - Setiap orang pasti ingin dianggap serius dan dihargai, bukan? Namun, tanpa sadar, ada ungkapan-ungkapan yang kita gunakan dalam percakapan sehari-hari yang justru membuat kita terkesan kekanak-kanakan dan kurang dewasa.
Masalah ini bukan tentang seberapa luas kosakata atau seberapa lancar kamu berbicara. Namun, lebih kepada bagaimana memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan.
Percaya atau tidak, beberapa ungkapan tertentu dapat memberikan kesan bahwa kamu kurang matang, meskipun itu tidak disengaja.
Mungkin saja, kamu sering menggunakan ungkapan-ungkapan ini tanpa menyadarinya. Dilansir dari Geediting pada Minggu (19/1), berikut 9 ungkapan yang sebaiknya dihindari agar kamu terlihat lebih dewasa dan profesional.
Ungkapan ini mungkin terdengar santai dan biasa digunakan untuk menunjukkan kesepahaman. Namun, tahukah kamu? Dalam situasi tertentu, ungkapan ini bisa terkesan meremehkan atau tidak benar-benar peduli pada apa yang sedang dibicarakan lawan bicara.
Selain itu, frasa ini membawa nuansa informal yang terkesan kekanak-kanakan, sehingga kurang cocok digunakan dalam percakapan serius atau profesional. Sebagai gantinya, gunakan ungkapan seperti “Itu menarik” atau “Saya setuju” untuk menunjukkan kesepahaman tanpa kehilangan kesan dewasa.
Siapa yang tidak pernah merasa kecewa ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan? Namun, ungkapan “Itu nggak adil” sering kali dikaitkan dengan emosi yang belum terkendali.
Mengeluh soal keadilan terdengar seperti protes anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung menghadapi situasi tidak adil dengan lebih bijak, tanpa bereaksi berlebihan.
Daripada mengatakan “Itu nggak adil,” cobalah mengungkapkan pendapatmu dengan cara yang lebih tenang dan solutif.
Pernah mendengar istilah bahasa absolut? Itulah yang terjadi ketika kamu menggunakan ungkapan seperti “Kamu selalu” atau “Kamu nggak pernah.”
Ungkapan ini memberi kesan generalisasi dan tidak adil, sehingga cenderung membuat orang lain bersikap defensif. Dampaknya, komunikasi jadi terhambat dan konflik semakin sulit diselesaikan.
Untuk menghindari kesan tidak dewasa, lebih baik fokus pada situasi spesifik daripada membuat pernyataan yang menyeluruh.
Ungkapan “Terserah” sering kali digunakan untuk mengakhiri percakapan yang dianggap melelahkan. Namun, tahukah kamu bahwa frasa ini sebenarnya menunjukkan sikap yang acuh tak acuh?
Selain itu, “Terserah” juga membawa kesan pemberontakan khas remaja yang kurang peduli pada solusi. Jika kamu ingin terkesan lebih matang, coba katakan sesuatu seperti, “Kita bahas lagi nanti” atau “Aku butuh waktu untuk memikirkan ini.”
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, wajar jika kita merasa ingin membela diri. Namun, dengan mengatakan “Itu bukan salahku,” kamu justru terlihat tidak bertanggung jawab.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
