Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 September 2025, 23.24 WIB

Menghadapi Jerawat Hormonal? Ini Panduan Lengkap Pola Makan yang Harus Dibatasi dan yang Wajib Dikonsumsi

Ilustrasi seorang perempuan dengan jerawat di wajah (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seorang perempuan dengan jerawat di wajah (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Jerawat hormonal sering kali membuat frustasi karena muncul tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Selain perawatan kulit, pola makan ternyata dapat berperan besar dalam memperburuk atau meredakan jerawat. Meski bukti ilmiah masih beragam, banyak orang menemukan bahwa mengatur pola makan membantu mengurangi kemunculan jerawat.

Jerawat terjadi ketika pori-pori kulit tersumbat oleh minyak (sebum) dan kotoran, memicu peradangan dan timbulnya komedo atau jerawat. Banyak faktor yang memengaruhi, seperti kulit berminyak, produk perawatan yang menyumbat pori, faktor genetik, obat-obatan tertentu, paparan sinar matahari, hingga ketidakseimbangan hormon.

Melansir dari Medical News Today, jerawat hormonal adalah istilah untuk jerawat yang terutama dipicu oleh perubahan hormon. Kondisi ini sering muncul sebelum atau saat menstruasi, selama atau setelah kehamilan, setelah memulai atau menghentikan pil KB, serta saat perimenopause atau menopause. Pola munculnya jerawat yang sesuai siklus hormonal dapat menjadi petunjuk utamanya.

Peneliti menduga hormon androgen berperan besar dalam jerawat hormonal. Androgen memicu produksi sebum berlebih di kelenjar minyak kulit. Stres, pubertas, sindrom ovarium polikistik (PCOS), hingga obat tertentu dapat meningkatkan kadar androgen. Diet juga memengaruhi hormon, termasuk androgen, sehingga berpotensi memengaruhi kondisi kulit.

Makanan yang Dapat Memicu Jerawat

Pola makan khas Barat sering tinggi indeks glikemik (GI) yang memicu lonjakan gula darah. Penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi GI dapat meningkatkan risiko jerawat. Studi pada masyarakat adat di Kanada, Kepulauan Kitava, Brasil, Afrika Selatan, dan Kenya menunjukkan jerawat jarang terjadi ketika mereka masih mengonsumsi makanan tradisional rendah GI. Namun saat mereka mulai makan makanan olahan ala Barat, angka jerawat meningkat.

Makanan tinggi GI yang sebaiknya dibatasi antara lain permen, kue manis, sereal manis, dan karbohidrat olahan seperti roti putih.

Selain itu, susu sapi juga dikaitkan dengan jerawat, meskipun bukti masih lemah. Sebuah tinjauan pada 2018 menemukan bahwa peminum susu 16% lebih berisiko mengalami jerawat dibandingkan yang tidak minum susu. Namun, produk olahan lain seperti keju atau yogurt belum terbukti memiliki efek serupa.

Cokelat juga kerap dicurigai sebagai pemicu jerawat. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan lemah antara cokelat dan jerawat, tetapi faktor lain seperti kandungan gula atau susu dalam produk cokelat dapat memengaruhi hasilnya. Studi pada 2018 menemukan konsumsi cokelat hitam 10 gram per hari selama 4 minggu dapat memicu perubahan kulit yang berpotensi menimbulkan jerawat, terutama pada pria muda.

Rekomendasi Pola Makan untuk Jerawat Hormonal

Meski tidak ada pola makan baku untuk jerawat hormonal, beberapa perubahan diet berikut dapat membantu. Pastikan selalu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum melakukan perubahan besar.

Fokuslah pada makanan dengan GI rendah seperti sayuran non-tepung, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan buah seperti apel, berry, dan plum. Sumber protein dan lemak sehat seperti minyak zaitun, telur, ayam, dan ikan juga membantu menjaga kestabilan gula darah sekaligus menutrisi kulit.

Asupan omega-3 juga penting karena dapat menurunkan peradangan dan kadar insulin-like growth factor 1 yang memengaruhi hormon androgen. Sumber omega-3 meliputi ikan berlemak seperti salmon dan makarel, minyak ikan atau minyak alga, serta biji rami dan kenari.

Selain itu, antioksidan berperan penting dalam kesehatan kulit. Makanan tinggi antioksidan seperti kacang Brazil, ikan, daging organ, anggur merah, blueberry, sayuran hijau, kol merah, dan teh hijau dapat mendukung perbaikan sel dan mengurangi stres oksidatif.

Jika susu sapi memicu jerawat, cobalah menggantinya dengan susu nabati seperti susu almond, kedelai, atau oat untuk melihat apakah ada perbaikan pada kulit.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore