
Ilustrasi orang yang salah (Freepik/Wavebreak Media)
JawaPos.com - Ada momen dalam hidup ketika seseorang tiba-tiba menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri.
Beberapa tahun lalu, penulis The Vessel, Isabella Chase pernah berada di titik seperti itu. Tanpa disadari, ia kembali melakukan kebiasaan lama yang pernah ia janjikan untuk tidak diulang lagi: menunggu pesan dari seseorang.
Bukan sekadar menunggu. Ia beberapa kali mengecek ponselnya dengan gelisah, lalu berpura-pura tidak terlalu peduli. Di dalam pikirannya, Isabella mencoba menenangkan diri dengan alasan sederhana.
“Mungkin hanya penasaran.” Namun jauh di dalam hati, ia tahu kenyataannya berbeda.
Ia menginginkan kepastian. Ia ingin merasa dipilih. Ia ingin percaya bahwa dirinya berarti bagi seseorang yang cukup peduli untuk memberi perhatian.
Yang lebih jujur lagi—meski sulit diakui—Isabella sebenarnya tidak terlalu menyukai orang itu. Yang ia sukai justru proses pengejarannya.
Ketidakpastian membuat setiap perhatian kecil terasa seperti kemenangan. Pesan singkat terasa seperti hadiah. Dan perhatian sekecil apa pun terasa seperti bukti bahwa ia masih diperhatikan.
Jika Anda pernah mengalami lingkaran seperti itu, Anda tidak sendirian. Isabella juga pernah berada di sana.
Namun setelah melalui pengalaman itu, ia menyadari beberapa kebenaran penting yang mengubah cara pandangnya tentang hubungan, perhatian, dan harga diri.
Begitu kebenaran ini benar-benar dipahami, mengejar orang yang salah tidak lagi terlihat romantis. Sebaliknya, itu terasa seperti bentuk pengabaian terhadap diri sendiri.
Dilansir dari laman The Vessel, berikut delapan kebenaran yang akhirnya membuat Isabella berhenti mengejar orang yang tidak memperlakukannya dengan layak.
1. Pengejaran sering kali berasal dari kebutuhan yang belum terpenuhi
Banyak orang mengira mengejar seseorang adalah tanda ketertarikan. Padahal, dalam banyak kasus, itu sebenarnya adalah kebutuhan emosional yang sedang mencari tempat untuk dipenuhi.
Isabella menyadari bahwa di balik keinginannya mengejar seseorang, ada beberapa kebutuhan yang belum ia sadari. Ia ingin merasa dihargai. Ia ingin merasa penting. Ia ingin merasa diakui.
Semua kebutuhan itu sebenarnya sangat manusiawi. Masalahnya muncul ketika seseorang berharap orang lain yang memenuhi seluruh kebutuhan tersebut.
