
Waka BGN Nanik S Deyang /(Istimewa).
JawaPos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk memperketat standar operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada 2026. Dapur yang belum memenuhi ketentuan dipastikan akan dihentikan sementara (suspend) dan tidak menerima insentif hingga melakukan perbaikan.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa kebijakan suspend diberlakukan sebagai langkah mendorong kepatuhan mitra terhadap standar kualitas dan keamanan pangan.
“Jadi kita yang kita sekarang suspend, berhenti sementara kita suspend ini, kalau di-suspend nih mereka tidak mendapatkan insentif ya, mitra enggak akan dapat insentif. Kenapa di-suspend? Memang tahun 2026 ini kita harus mengutamakan kualitas,” ujar Nanik dalam sebuah talkshow acara televisi, Rabu (25/3).
Menurut Nanik, sejumlah dapur disuspend karena belum memenuhi berbagai persyaratan penting, mulai dari kualitas menu hingga kepatuhan terhadap instruksi teknis yang telah ditetapkan, terutama pascakejadian luar biasa (KLB) yang sempat terjadi sebelumnya.
“Jadi selain karena dia menunya tidak bagus, bisa jadi dia belum menjalankan apa yang kita instruksikan. Kan setelah kejadian bulan September lalu banyak KLB (Kejadian Luar Biasa) ya, banyak kejadian luar biasa itu kemudian kita misalnya mewajibkan SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi). Ternyata mereka mendaftar saja enggak. Kalau mendaftar saja enggak gimana mau diproses?” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah kewajiban teknis lain juga kerap diabaikan oleh mitra dapur, seperti pemasangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), penggunaan alat sterilisasi ompreng dengan uap (steam), hingga penyediaan ruang pemporsian berpendingin udara.
“Nah, ini yang kita berikan suspend untuk yang belum mau mendaftar, supaya kita dorong supaya mereka mau mendaftar. Lalu ada juga sudah diinstruksikan harus memakai IPAL untuk limbahnya, ternyata dia belum juga masang IPAL. Lah enggak bisa, ini nanti bermasalah juga begitu Mbak Maya karena dengan lingkungan dan lain-lain iya kan?” paparnya.
Selain itu, standar kebersihan juga diperketat, termasuk dalam proses pencucian peralatan makan.
“Misalnya untuk cuci ompreng enggak sekedar water heater, harus ada steam ompreng. Ternyata steam ompreng-nya enggak ada. Ternyata tadi itu saya bilang ketika diporsi di ruang pemporsian juga kan harus dingin ada AC, ternyata AC-nya tidak ada. Nah yang seperti ini kalau kita enggak tegas, kalau kita enggak keras, kalau kita enggak lakukan suspend, ya mereka asik aja, artinya ya akan terus kejadian,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nanik menyebut masa suspend umumnya berlangsung satu hingga dua minggu, tergantung pada respons dan upaya perbaikan dari masing-masing mitra dapur.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
