
Ilustrasi Google Play Protect. (istockphoto.com)
JawaPos.com - Raksasa teknologi Google menolak kebijakan pemblokiran total akun pengguna berusia di bawah 16 tahun sebagaimana diatur dalam PP Tunas di Indonesia.
Salah satu layanan miliknya, YouTube, termasuk dalam kategori aplikasi berisiko tinggi yang diwajibkan melakukan pemblokiran akun anak mulai 28 Maret 2026. Namun, Google memilih tidak mengikuti pendekatan tersebut.
Perusahaan menilai bahwa pembatasan menyeluruh justru bisa berdampak negatif karena berpotensi menghilangkan berbagai fitur keamanan yang selama ini dirancang khusus untuk melindungi anak-anak di dunia digital. Menurut Google, anak tetap perlu memiliki akses ke ruang digital yang aman untuk belajar, berkembang, dan bereksplorasi, bukan sepenuhnya ditutup.
Dalam pernyataan resminya, Google menyebut telah lebih dari satu dekade mengembangkan teknologi perlindungan bagi pengguna muda. Meski menolak pemblokiran total, mereka tetap menyatakan dukungan terhadap tujuan pemerintah melalui PP Tunas, terutama pendekatan berbasis penilaian mandiri berbasis risiko.
"Kami selaras dengan tujuan Pemerintah Indonesia dalam PP Tunas, dan mengapresiasi pendekatan penilaian mandiri berbasis risiko (risk-based self-assessment) yang diusungnya," tulis Google Indonesia di blog resmi mereka.
Menurut Google, pendekatan ini dinilai lebih efektif karena mendorong perusahaan menghadirkan sistem perlindungan yang terintegrasi dan sesuai dengan usia pengguna, dibandingkan kebijakan larangan menyeluruh.
Google juga menegaskan bahwa pemblokiran akun anak di bawah 16 tahun bisa menghapus akses ke berbagai fitur penting, seperti akun dengan pengawasan orang tua, pengaturan durasi penggunaan, serta perlindungan kesejahteraan digital. Tanpa fitur tersebut, anak justru berisiko mengakses layanan digital tanpa kontrol yang memadai.
Selain aspek keamanan, YouTube dinilai memiliki peran besar sebagai sarana pembelajaran terbuka di Indonesia. Platform ini membantu memperluas akses pendidikan, baik di sekolah maupun di rumah, khususnya bagi pelajar di wilayah terpencil.
"Menghapus akun pengguna di bawah 16 tahun secara menyeluruh berisiko menciptakan kesenjangan pengetahuan, serta menghalangi hak siswa di desa-desa terpencil untuk mendapatkan kesetaraan akses dalam belajar yang sama dengan mereka yang berada di kota besar," ungkapnya.
Google memperingatkan bahwa pembatasan total dapat memperlebar kesenjangan akses informasi, terutama bagi anak-anak yang bergantung pada platform digital untuk belajar. Data internal perusahaan menunjukkan sebagian besar orang tua di Indonesia menilai YouTube membantu mempermudah akses pendidikan.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
