
Yenny Wahid
JawaPos.com - Ketika Jokowi, dilanjutkan dengan Sandiaga Uno dan Prabowo, serta yang terakhir Kiai Ma'ruf Amin mengunjungi rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, banyak orang bertanya: Keluarga Gus Dur memberikan dukungan kepada siapa?
Lebih khusus lagi, pertanyaan itu ditujukan kepada Yenny Wahid, putri Gus Dur yang selama ini dianggap dekat dengan aktivitas politik.
Tentang apakah Yenny bersedia menjadi bagian tim sukses dari salah satu pasang calon presiden-wakil presiden tersebut.
Secara formal, Yenny memang tidak memiliki afiliasi politik dengan partai tertentu. Namun, sebagai orang yang pernah terjun di kancah politik, di PKB, dan putri seorang tokoh besar yang pernah menjadi presiden, langkah-langkah Yenny dalam perhelatan besar pemilu serentak itu tentu tidak bisa diabaikan. Lebih-lebih, sampai sekarang Yenny sering diidentikkan sebagai pimpinan sayap politik Gusdurian -orang-orang yang menjadikan Gus Dur sebagai rujukan dalam pandangan keagamaan, sosial, dan politik.
Ketika dikaitkan dengan Gusdurian, sikap Yenny dan keluarga Gus Dur tentu bukan sikap biasa. Melainkan sikap yang "sesuatu". Di belakang sikap itu, bisa terkait dengan rentetan sikap sebuah kelompok banyak orang yang dekat dengan pemikiran Gus Dur. Ketika politik itu dikaitkan dengan elektoral, sikap Yenny dengan demikian juga terkait dengan mobilisasi dukungan suara dari kelompok besar itu.
Memang acap kali orang terlalu menyederhanakan pandangan bahwa Gusdurian itu selalu terkait dengan gerakan politik. Hal tersebut tidak terlepas dari gerakan yang pernah dilakukan oleh Gus Dur semasa hidup.
Gus Dur merupakan seorang pemikir sekaligus aktivis organisasi kemasyarakatan. Sebagai intelektual yang "tidak di menara gading", Gus Dur juga pernah terlibat gerakan politik praktis. Hingga akhirnya menjadi presiden.
Pengikut Gus Dur, yang kemudian dikenal sebagai Gusdurian itu, bisa masuk ke dua spektrum tersebut dan bisa juga gabungan keduanya. Spektrum itu juga terefleksi pada empat putri Gus Dur sendiri.
Putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid, lebih tertarik pada aktivitas kultural dan terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid, selama ini lebih mencerminkan wajah politik Gus Dur. Dua putri lainnya cenderung pada wajah seperti putri pertama.
Dalam situasi semacam itu, lalu seberapa besar kepentingan dukungan keluarga Gus Dur, dari spektrum mana pun, terhadap persaingan politik di pemilu serentak tahun depan?
Istri Gus Dur, Ibu Sinta Nuriyah Wahid, dalam berbagai kesempatan berkali-kali menyatakan posisi netral keluarga Gus Dur. Namun, tak demikian halnya dengan putri kedua beliau, Yenny.
Pada pemilu 2019, tidak akan netral lagi. Seperti diumumkan Rabu lalu (26/9), setelah berkonsultasi dengan para kiai sahabat Gus Dur yang terlebih dahulu melakukan lelaku spiritual, Yenny akan memberikan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.
Mengapa Yenny sekarang melakukan pemihakan? Apakah langkah itu akan diikuti Gusdurian yang tidak hanya bakal memberikan dukungan elektoral kepada Jokowi-Ma'ruf Amin? Tapi juga sebagai gerakan untuk memberikan dukungan secara lebih masif?
Narasi mengapa Yenny akhirnya memberi dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin memang bisa panjang. Namun, simbol lukisan Jokowi yang sedang menulis "NKRI" yang belum selesai saat jumpa pers Rabu lalu memberikan makna tersendiri.
Jokowi dipandang sebagai seorang pemimpin yang sedang berusaha keras membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana juga yang dibayangkan dan pernah dilakukan oleh Gus Dur. Memberikan kesempatan kepada Jokowi untuk melanjutkan pekerjaannya dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
