JawaPos.com - Akses komunikasi menjadi salah satu kunci untuk menciptakan ruang yang setara bagi penyandang tuli.
Bukan hanya soal kemampuan menggunakan bahasa isyarat, tetapi juga bagaimana lingkungan sekitar memahami kebutuhan komunikasi agar penyandang tuli dapat bekerja, menggunakan layanan, dan berinteraksi tanpa hambatan.
Persoalan tersebut kembali mendapat perhatian dalam rangkaian peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026.
Baca Juga: Jadi yang Pertama dari Universitas Indonesia, Bevan Pramudito Taklukkan Olahraga Paling Ekestrem
Sejumlah kegiatan edukasi bahasa isyarat digelar untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai budaya Tuli sekaligus mendorong interaksi yang lebih inklusif dalam kehidupan sehari-hari.
Kesetaraan tidak cukup dimaknai sebagai tersedianya kesempatan untuk bekerja atau menggunakan sebuah layanan.
Kesetaraan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara mandiri dan memperoleh informasi dengan cara yang dapat diakses.
Baca Juga: Hanief Iksa Kucurkan Ratusan Juta dari Kantong Pribadi, Hidupkan Sekolah Rusak hingga Buka Beasiswa
Bahasa Isyarat Bukan Sekadar Keterampilan, tetapi Jembatan Interaksi
Pemahaman terhadap bahasa isyarat menjadi salah satu cara untuk mengurangi jarak komunikasi tersebut.
Semakin banyak orang yang memiliki pengetahuan dasar bahasa isyarat, semakin besar pula peluang penyandang tuli untuk berinteraksi tanpa harus selalu bergantung pada orang lain.
Hal ini terlihat dalam kegiatan edukasi yang melibatkan ratusan mitra pengemudi dan pelaku usaha.
Mereka diperkenalkan dengan bahasa isyarat dasar yang dapat digunakan dalam situasi sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi dengan pelanggan Tuli.
Imelda Situmorang, mitra pengemudi Grab yang juga merupakan Teman Tuli, mengatakan kegiatan semacam itu memberinya ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus mengenalkan cara berkomunikasi yang lebih mudah diakses.
“Kegiatan ini menjadi ruang bagi kami untuk saling belajar dan berbagi pemahaman tentang budaya Tuli, termasuk mengenalkan fitur Grab yang dapat digunakan dalam keseharian," tutur Imelda.
Baca Juga: 25 Kader Pasukan Inti Pagar Nusa Lulus Diktama di Taiwan Dibekali Ijazahan Wirid dan Amalan
"Rompi Teman Setara juga membantu memperlancar komunikasi karena memuat informasi visual yang dapat dilihat penumpang," kata Imelda Situmorang, Teman Tuli yang juga Mitra Pengemudi Perempuan Grab.
650 Mitra Pengemudi dan Merchant Belajar Bahasa Isyarat
Dalam rangkaian Hari Bahasa Isyarat Internasional, edukasi bahasa isyarat diberikan kepada sekitar 650 mitra Grab di sejumlah kota.
Sebanyak ratusan mitra pengemudi di Medan, Semarang, dan Jakarta mengikuti edukasi bahasa isyarat dalam rangkaian Kopdar Spesial Hari Bahasa Isyarat.
Baca Juga: Aksara Jawi Aceh Bersiap Masuk Internet, Alamat Website Bisa Ditulis dengan Huruf Arab Melayu
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan sekaligus pembelajaran mengenai budaya Tuli dan cara berkomunikasi yang lebih inklusif.
Edukasi serupa diberikan kepada 450 mitra GrabMerchant di Bali, Bandung, dan Yogyakarta melalui kegiatan Teras Perwira.
Para pelaku usaha diperkenalkan dengan bahasa isyarat dasar yang dapat digunakan ketika melayani pelanggan Tuli.
Baca Juga: Kisah Dinda dan Farras, Setiap Mimpi Layak Diperjuangkan Lewat Pendidikan
Konteks ini penting karena interaksi dengan penyandang tuli berlangsung di banyak ruang publik.
Restoran, transportasi, pusat layanan, tempat kerja, hingga layanan digital membutuhkan pendekatan komunikasi yang tidak hanya bergantung pada suara.
Dengan demikian, kemampuan dasar berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih mudah diakses.
Teknologi Juga Punya Peran Mengurangi Hambatan Komunikasi
Selain kemampuan manusia untuk memahami bahasa isyarat, teknologi dapat digunakan untuk mengurangi hambatan komunikasi.
Baca Juga: Hiu Paus di Jalur Pelayaran Terancam Tertabrak Kapal, Satellite Tag Jaga Eksistensinya
Salah satu persoalan yang kerap dihadapi mitra pengemudi Tuli adalah komunikasi melalui panggilan telepon.
Sistem komunikasi yang sepenuhnya mengandalkan suara dapat menyulitkan ketika pengemudi perlu berkoordinasi dengan pelanggan.
Dalam ekosistem Grab, kebutuhan tersebut diakomodasi melalui fitur Disable Call yang mengalihkan komunikasi dari panggilan telepon ke pesan berbasis teks.
Baca Juga: Kemenekraf Dorong Ruang Kreatif Yang Inklusif Bagi Perempuan
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan fasilitas fisik.
Desain layanan digital dan cara sebuah sistem berkomunikasi juga menentukan apakah seseorang dapat menggunakan layanan secara mandiri.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, pembelajaran bahasa isyarat juga dilakukan di lingkungan internal Grab.
Baca Juga: Mengenal World Nomad Games: Olimpiade-nya Orang-Orang dari Suku Nomadik di Berbagai Negara
Salah satunya melalui kehadiran pop-up booth Kopi Sunyi yang melibatkan mitra GrabMerchant Tuli.
Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia, mengatakan perjalanan bersama komunitas Tuli memberikan pembelajaran mengenai pentingnya interaksi yang setara.
Dia menyebut, selama hampir satu dekade, perjalanan bersama Teman Tuli mengajarkan bahwa ekosistem inklusif bukan hanya tentang memberikan akses.
Tapi juga memastikan setiap orang dapat merasa diapresiasi dan menjadi bagian dari interaksi yang setara dalam keseharian.
Baca Juga: Satu Abad Rahmi Hatta: Dari Panggung RUMAH hingga 40 Pasangan Nikah Massal
"Perjalanan bersama Teman Tuli, baik sebagai Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, maupun pelanggan, terus memberikan berbagai pengalaman dan pembelajaran bagi kami," ungkap Neneng.
Melalui berbagai ruang interaksi dan edukasi yang telah dihadirkan, pihaknya ingin memperluas pemahaman bahwa inklusivitas merupakan bagian dari pengalaman bersama.
Isu kesetaraan bagi penyandang tuli pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan satu perusahaan atau satu layanan.
Baca Juga: Membaca Peristiwa Kemerdekaan dan Era Revolusi Lewat Karya Sastra Sezaman
Tantangannya berada lebih luas, yakni bagaimana ruang publik, tempat kerja, layanan digital, dan masyarakat secara umum dapat mengurangi ketergantungan pada komunikasi verbal.
Edukasi bahasa isyarat menjadi salah satu langkah untuk membangun pemahaman.
Sementara teknologi dan desain layanan dapat membantu mengatasi hambatan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui komunikasi langsung.
Baca Juga: Kedubes Palestina di Indonesia Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa di NTT