
Tim advokat Sudewo adukan dugaan pelanggaran etik pengawal tahanan KPK, minta Dewan Pengawas bertindak tegas. (Istimewa)
JawaPos.com - Tim advokat Sudewo adukan dugaan pelanggaran etik atas dugaan tindakan fisik tidak patut petugas pengawal tahanan KPK kepada Dewan Pengawas KPK. Tim menilai, petugas melakukan tindakan fisik berlebihan terhadap kliennya setelah agenda persidangan pembacaan putusan sela pada Senin (29/6).
”Oknum petugas pengawal tahanan diduga melakukan dorongan keras dan tindakan fisik yang tidak patut terhadap klien kami. Tindakan itu memicu reaksi spontan dari sebagian pendukung dan membahayakan keselamatan serta merendahkan martabat klien kami di hadapan publik,” ungkap Andri Isman, dari tim advokat Sudewo.
Demi menjaqa akuntabilitas, profesionalisme, dan martabat proses peradilan, lanjut dia, pihaknya memohon Dewan Pengawas KPK melakukan pemeriksaan yang objektif dan transparan terhadap petugas pengawal tahanan KPK yang terlibat saat kejadian tersebut.
”Jika terbukti ada kelalaian, mereka harus diberi sanksi tegas karena pelanggaran kode etik, kode perilaku, dan prosedur pengawalan tahanan. Kami juga meminta pengawalan terhadap klien kami pada persidangan berikutnya dilakukan secara manusiawi, proporsional, tertib, dan tidak provokatif,” tandas Andri Isman.
Sebelumnya, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Jawa Tengah, menolak eksepsi Bupati nonaktif Pati Sudewo dalam perkara dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan pengisian perangkat desa.
”Memutuskan eksepsi terdakwa bersama tim advokatnya tidak dapat diterima,” kata Hakim Ketua Edwin Pudyono seperti dilansir dari Antara dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang.
Baca Juga:Kronologi Pembunuhan Tapir di Lampung: Berawal dari Jalinsum, Berakhir Jadi Santapan Warga
Hakim menilai penggabungan dua perkara oleh penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak bertentangan dengan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Menurut majelis hakim, penggabungan perkara sejalan dengan asas peradilan yang sederhana, cepat, dan berbiaya ringan.
Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan keberatan terdakwa mengenai penggabungan perkara dengan alasan perbedaan kewenangan, lokasi, dan keterkaitan perkara bukan merupakan materi yang dapat diajukan dalam eksepsi. Majelis hakim juga menilai penggabungan kedua perkara justru menguntungkan terdakwa karena pembuktian dapat dilakukan secara bersamaan.
”Tim advokat bisa fokus untuk melakukan pembelaan,” tandas Edwin.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
