
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Oleh ELI RUSLI
Derap sepatu tentara NICA saat menginjak lantai penjara itu seperti mengolok-olok kaki telanjang milik lelaki kulit kuning yang melangkah tertatih-tatih di depan hidungnya. Dari balik jeruji penjara tempatku ditahan, sepasang mataku meraba-raba mengawasi langkah kedua lelaki yang berjalan beriringan tersebut.
Sepasang mataku tidak terlalu awas menyentuh tubuh mereka setelah lebam dihantam pukulan tangan kasar tentara NICA inlander yang menangkapku. Namun lambat laun setelah kedua bayangan itu semakin mendekat, sebelah mataku mulai mengenali permukaan wajah yang melangkah lunglai di depan tentara NICA tersebut. Betul. Sepertinya aku mengenali wajah lelaki kulit kuning itu.
*
Pagi itu matahari berusaha menerobos celah-celah bilik kamar kontrakanku. Tadi, sebelum beduk subuh bertalu-talu, aku terlebih dahulu santap sahur dengan tiga potong singkong rebus. Dan setelah salat Subuh, kuluruskan kembali tubuhku di atas sehelai tikar anyaman mendong. Maklumlah, kemarin pikiran dan tenagaku kerasukan perasaan gembira bersetubuh ketegangan. Berita kekalahan Jepang menari-nari di lorong telinga para pemuda di Jakarta. Tadi malam, puluhan bibir kalangan pemuda mengucap satu suara mendesak Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Aku membasuh muka dengan air dari sumur yang isinya semakin mengering karena kemarau merajalela tanpa ampun menyedot semua air sumur warga Jakarta. Kemudian memindahkan sepeda onthel ke halaman. Lalu kukayuh secepatnya menuju Cikini. Jalanan sepi. Ban sepeda mesti berkelok-kelok menghindari lubang-lubang yang berserak di jalanan. Dari arah muka sebuah truk tua melintas ke arahku. Terdengar tubuh truk tua berderak-derak saat ban menggilas lubang-lubang di badan jalan. Debu-debu berhamburan ke udara. Di belakang kemudi, duduk seorang pemuda berseragam prajurit PETA. Truk tua melaju tergesa-gesa menuju batas kota.
Perasaan tegang berkecamuk di balik dada saat ban sepeda memasuki tengah kota. Wajah-wajah tentara Jepang yang kutemui di jalan tidak garang seperti hari-hari sebelumnya. Wajah mereka tampak tegang, lesu, tidak bergairah. Kepercayaan diri mereka seperti terbang dari tubuhnya. Dugaanku, kemungkinan besar berita tentang kekalahan tentara Jepang dari sekutu telah lolos ke lubang telinga mereka.
Tiba di markas pemuda, Samsul, sahabatku merentangkan kedua tangannya ke langit.
’’Ros! Besok kita merdeka!”
’’Merdeka?”
’’Benar. Kita akan melucuti tentara Jepang lewat tengah malam nanti. Bung Karno dan Bung Hatta sudah diamankan ke luar kota biar tidak terpengaruh orang-orang Jepang sialan itu. Hari ini kita tidak boleh jauh-jauh dari markas. Bersiaplah dengan sepedamu! Kabar ini harus didengar seluruh pemuda di setiap sudut Kota Jakarta.”
Siang itu, sambil menahan lapar dan dahaga, aku mengayuh sepeda menyambangi kantong-kantong pemuda agar bersiap menyambut kemerdekaan Indonesia.
Selepas membatalkan puasa, menjelang salat Isya, wajah seorang pemuda dengan lencana berbentuk kepala banteng dalam lingkaran yang melekat di atas dada sebelah kiri masuk ke ruangan.
”Besok Bung Karno dan Bung Hatta akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di lapangan Ikada! Kawan-kawan harap datang ke sana sebelum jam sepuluh pagi!”
