Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Maret 2025 | 14.46 WIB

Sejarah dan Perjalanan Panjang Puasa Ramadhan dalam Islam

ilustrasi Sejarah dan Perjalanan Panjang Puasa Ramadhan dalam Islam / freepik - Image

ilustrasi Sejarah dan Perjalanan Panjang Puasa Ramadhan dalam Islam / freepik

JawaPos.com - Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang beriman.

Kewajiban ini telah ditetapkan dalam syariat Islam dan menjadi bagian dari ibadah tahunan yang dilaksanakan selama sebulan penuh.

Namun, tahukah Anda bahwa puasa Ramadhan tidak langsung diwajibkan sejak awal ajaran Islam? Sejarah mencatat bahwa sebelum datangnya perintah puasa Ramadhan, umat Muslim sudah terbiasa dengan praktik berpuasa, tetapi dengan ketentuan yang berbeda.

Dilansir dari laman YouTube ASKAMZA Channel, sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, Rasullullah Saw dan para sahabat sudah menjalankan beberapa jenis puasa.

Salah satunya adalah puasa Asyura, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Selain itu, kaum Muslimin juga terbiasa berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah.

Namun, seiring perjalanan Islam, Allah menurunkan perintah wajibnya puasa Ramadhan melalui wahyu yang tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 183-187. Dari sinilah, puasa Ramadhan menjadi ibadah utama yang harus dilakukan oleh umat Islam setiap tahunnya.

Sejarah mencatat bahwa puasa Ramadhan mulai diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriyah, bersamaan dengan beberapa perubahan penting dalam Islam, seperti pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka'bah di Masjidil Haram.

Sejak saat itu, puasa Ramadan menjadi bagian dari kewajiban utama umat Muslim, dengan aturan yang lebih jelas, termasuk waktu sahur, berbuka, serta adanya keringanan bagi mereka yang memiliki uzur seperti sakit atau dalam perjalanan.

Perjalanan Puasa Sebelum Islam dan Perbedaannya

Sebelum Islam datang, praktik puasa sudah dikenal oleh beberapa agama dan peradaban terdahulu. Umat Yahudi, misalnya, juga menjalankan puasa, tetapi dengan durasi yang lebih panjang. Mereka menahan diri dari makan dan minum selama 40 hari, dengan alasan cuaca yang panas pada bulan Ramadan, sehingga mereka memindahkan waktu puasanya ke musim semi. Selain itu, umat Yahudi juga memiliki cara berpuasa yang berbeda, seperti berbaring di atas pasir sebagai bentuk ibadah mereka.

Dalam perjalanannya, Islam membawa konsep puasa yang lebih ringan dibandingkan dengan ajaran sebelumnya. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa perbedaan utama antara puasa umat Islam dan puasa ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah pada makan sahur. Islam menganjurkan umatnya untuk makan sahur sebelum fajar sebagai bentuk keberkahan dalam ibadah puasa. Dengan demikian, Islam memberikan keseimbangan antara ibadah dan kemampuan fisik manusia dalam menjalankan puasa.

Puasa Ramadhan bukan hanya sekadar kewajiban tahunan, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang menunjukkan bagaimana Islam menyempurnakan konsep puasa dari ajaran-ajaran sebelumnya. Dari yang awalnya hanya puasa Asyura dan puasa pertengahan bulan, hingga akhirnya ditetapkan sebagai ibadah wajib selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Dengan adanya aturan yang lebih jelas dan penuh rahmat, puasa Ramadan menjadi sarana bagi umat Muslim untuk meningkatkan ketakwaan, mendekatkan diri kepada Allah, serta merasakan kebersamaan dalam ibadah yang suci. Sebagai umat Islam, memahami sejarah dan hikmah puasa Ramadhan dapat menambah rasa syukur dan semangat dalam menjalankannya setiap tahun.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore