
Ilustrasi sayur dari media hidroponik (DCStudio/freepik)
JawaPos.com - Tertarik mencoba menanam hidroponik tapi bingung mulai dari mana? Nah, sistem wick menjadi pilihan yang tepat untuk pemula.
Hidroponik dengan sistem wick ini dikenal paling sederhana, murah, dan mudah dipraktikkan di rumah.
Melansir Farmee, sistem wick atau sistem sumbu dalam hidroponik merupakan sistem pasif yang memanfaatkan sumbu tambahan untuk mengalirkan larutan nutrisi ke akar tanaman.
Disebut sebagai sistem pasif sebab sistem ini tidak menggunakan pompa atau alat mekanis lainnya.
Kesederhanaan ini yang menjadikannya ideal bagi pemula. Sistem ini sangat sederhana dan mendasar, juga memberikan pengalaman hidroponik yang cepat bagi pemula.
Sumbu yang digunakan biasanya terbuat dari kain flanel, kain bekas, atau sumbu kompor yang dicelupkan ke dalam wadah berisi larutan nutrisi.
Sedangkan, ujung sumbu lainnya ditempatkan di media tanam. Larutan nutrisi akan merambat melalui sumbu karena daya serap akar tanaman. Proses tersebut disebut dengan daya kapiler.
Melansir Trees, aksi kapiler mirip dengan proses kain baju kita menyerap keringat dari kulit kita. Nah, tanaman dalam sistem ini menyerap nutrisi dan air dari tanah melalui akar menggunakan prinsip yang sama.
Umumnya setiap tanaman akan memiliki setidaknya satu sumbu terkadang dua, yang menghubungkan antara media tanam dengan wadah air dengan nutrisi.
Keunggulan dan Kekurangan Sistem Wick
Keunggulan sistem wick menawarkan kesederhanaan dan kemudahan, karena tidak memerlukan peralatan yang rumit dan mahal, serta dapat memanfaatkan barang-barang bekas seperti botol atau gelas plastik.
Di lain sisi, karena bersifat pasif dan tidak membutuhkan kritik atau pompa, sistem ini juga hemat energi dan perawatannya relatif mudah, hanya perlu menambahkan larutan nutrisi secara berkala.
Melansir dari Ponics Life, sistem wick ini juga sangat cocok untuk tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, seperti sayuran daun, seperti selada, bayam, kangkung, dan sawi.
Namun, sistem wick juga memiliki beberapa kekurangan. Antaranya sistem ini kurang efektif untuk tanaman yang membutuhkan banyak air atau nutrisi, seperti tomat atau cabai.
Jika larutan nutrisi habis atau sumbu kering, tanaman bisa kekurangan air dan nutrisi.
