
Ilustrasi serangan baru Iran menyerang dekat fasilitas nuklir Israel. (Al-Jazeera).
JawaPos.com - Serangan balasan Iran ke Israel memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Rudal-rudal Teheran dilaporkan berhasil menghantam dua wilayah di selatan Israel pada Sabtu (21/3) malam waktu setempat, memicu kerusakan luas dan melukai puluhan orang, sekaligus meningkatkan eskalasi konflik yang kini memasuki pekan keempat.
Dua kota yang terdampak adalah Dimona dan Arad, kawasan yang berdekatan dengan fasilitas pusat riset nuklir utama Israel di Gurun Negev. Militer Israel mengakui tidak mampu mencegat sejumlah rudal yang berhasil menembus sistem pertahanan udara di area tersebut.
Mengutip Politico, serangan ini menjadi momen penting, karena untuk pertama kalinya rudal Iran dilaporkan berhasil menjangkau wilayah sensitif di sekitar fasilitas nuklir Israel.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut keberhasilan tersebut sebagai sinyal perubahan besar dalam konflik.
“Jika rezim Israel tidak mampu mencegat rudal di kawasan Dimona yang sangat dilindungi, maka secara operasional ini menandai fase baru pertempuran,” ujarnya.
Kerusakan Luas dan Puluhan Korban
Di kota Arad, satu serangan langsung menyebabkan kerusakan parah pada sedikitnya 10 gedung apartemen. Tiga di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis dan terancam runtuh. Tim penyelamat mengevakuasi korban dari reruntuhan, dengan sedikitnya 64 orang dilarikan ke rumah sakit.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menggambarkan situasi tersebut sebagai malam yang berat.
“Ini adalah malam yang sangat sulit,” katanya, seraya memastikan tambahan tim darurat telah dikerahkan ke lokasi terdampak.
Dimona sendiri berada sekitar 19 kilometer dari pusat riset nuklir Israel, sementara Arad berjarak sekitar 35 kilometer di utara fasilitas tersebut.
Serangan Iran terjadi hanya beberapa jam setelah fasilitas pengayaan nuklir utama Iran di Natanz dilaporkan diserang. Meski Israel membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut, insiden itu menjadi pemicu langsung aksi balasan Teheran.
Otoritas Iran menyatakan tidak terjadi kebocoran radiasi di Natanz. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga menyebut belum menerima laporan adanya kerusakan serius atau tingkat radiasi abnormal di wilayah Israel.
Namun, kekhawatiran global meningkat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi memicu 'risiko bencana besar di seluruh Timur Tengah'.
Di tengah eskalasi militer, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Ia menuntut Teheran membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi serangan baru dari AS.
