
Ilustrasi orang yang memaafkan diri sendiri. (Freepik.com/cookie_studio)
Memaafkan terkadang diidentikkan dengan memberi kesempatan kedua untuk disakiti.
Ketakutan ini, terutama bagi yang pernah mengalami trauma, menjadi penghalang untuk memaafkan.
Mereka khawatir bahwa dengan memaafkan, mereka memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan kesalahan yang sama lagi.
Selain itu, memaafkan terkadang disalah artikan sebagai bentuk kelemahan, dan merasa harga dirinya jatuh jika ia memaafkan.
Emosi Negatif yang Menguasai
Emosi negatif seperti marah, dendam, dan perasaan tidak adil dapat menguasai pikiran dan menghalangi proses memaafkan.
Perasaan ketidakadilan yang dialami juga dapat mempersulit upaya untuk memaafkan.
Mereka mungkin berpikir bahwa dengan memaafkan berarti mereka mengabaikan atau menerima ketidakadilan tersebut yang bertentangan dengan nilai mereka.
Kurangnya Empati dan Kesulitan Memahami Perspektif Orang Lain
Sulitnya menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami sudut pandangnya dapat menghambat proses memaafkan. Hal ini berkaitan dengan kesulitan memahami motif di balik tindakan orang lain.
Kesalahpahaman tentang Memaafkan
Terdapat keyakinan bahwa memaafkan berarti membebaskan pelaku dari tanggung jawab, bahwa kita harus menunggu permintaan maaf atau harus melupakan kesalahan tersebut.
Memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan orang lain atau melupakan kesalahan yang telah diperbuat.
Melansir dari Psychcologs, memaafkan adalah tentang melepaskan diri Anda dari beban emosional yang disebabkan oleh tindakan tersebut.
Rasa sakit akibat suatu kejadian mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya.
