
Jay Idzes menyatakan kecewa gagal bawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026. (Dok. Timnas Indonesia)
JawaPos.com - Tommy Desky selaku video analis Indonesia coba menganalisa secara mendalam struktur dan sistem permainan yang diterapkan oleh Patrick Kluivert di Timnas Indonesia saat melawan Irak.
Menyoroti permasalahan paling kritis dan memprihatinkan yang terjadi di atas lapangan, terkait dislokasi struktural akut yang digambarkan sebagai formasi 5-0-5.
Adanya dislokasi struktural yang sangat memprihatinkan, di mana Timnas Indonesia sempat tertangkap menggunakan pola, diistilahkan sebagai 5-0-5, secara substansi menunjukkan kekosongan total di sektor tengah lapangan.
Kondisi ini menciptakan masalah koneksi serius, memaksa pemain dari lini belakang, mengambil inisiatif untuk bergerak ke sektor tengah demi menciptakan alur, karena lima pemain menumpuk di belakang dan lima pemain lainnya di depan.
Situasi posisi gelandang yang kosong ini disebut sebagai 'alarm' di level elite karena sektor tengah adalah kunci vital untuk menciptakan link-up play dari belakang hingga depan serta sebagai outlet progresi yang aman.
"ketiadaan pemain di area tersebut membuat inisiatif progresi timnas mudah dibaca lawan dan cenderung hanya mengalir ke sisi lapangan," ungkap Tommy Desky di kanal youtube -nya.
Permainan Timnas Indonesia saat hadapi Irak.
Taktik 5-0-5 berupaya menciptakan lima pemain di lini depan dengan pemain-pemain yang dipatok pada koridor tertentu, sayangnya penetapan posisi yang terlalu kaku ini membuat pemain-pemain depan menjadi pasif dan kehilangan kreativitas.
Sehingga sistem dibangun tidak bisa cair dan gagal mengartikulasikan fleksibilitas pergerakan individu, bahkan kekakuan ini berimplikasi langsung pada ketidakmampuan Timnas untuk memanfaatkan kelemahan lawan.
