
Aksi demonstrasi sejumlah jagal dan pedagang daging RPH Pegirian di Balai Kota Surabaya, Rabu (14/1). (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Buntut rencana relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke Tambak Osowilangun, sejumlah pedagang daging dan jagal kembali melakukan aksi demonstrasi di Balai Kota Surabaya, Rabu (14/1).
Dari pantauan JawaPos.com, mereka memadati Jalan Walikota Mustajab sekitar pukul 14.30 WIB. Mereka tetap bersikeras menolak pindah ke RPH Osowilangun karena terlalu jauh dari tempat tinggal mereka di Pegirian.
Sambil berorasi, demonstran juga membentangkan poster-poster bertuliskan keresahan mereka, seperti "Sampai Kapan Keadilan Selalu Tidak Berpihak Pada Kami Sebagai Masyarakat Kecil".
Ada pula "RPH Pegirian Sudah Menjadi Rumah Kami yang Kedua, Jadi Kami Tidak Mau Dipindah". Saat unjuk rasa berlangsung, lalu lintas di sekitar Jalan Walikota Mustajab berjalan merambat.
“Kehadiran kita karena kebijakan Wali Kota Surabaya yang bertentangan dengan kepentingan umum. Kami tetap menyatakan siap untuk melawan, kami akan mogok kerja," tutur salah seorang orator, Rabu (14/1).
Demonstran mengancam akan melakukan mogok kerja hingga pasokan daging di pasar-pasar Surabaya terganggu. Mereka meminta ditemui langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
"Selama kami masih punya napas, kami warga hadir di sini untuk menegakkan keadilan sebagai bentuk pembelaan hak rakyat. Satu langkah pun kami tidak akan mundur sampai tuntutan kami terpenuhi," seru sang orator kembali.
Sebagai informasi, aksi tolak relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, Senin - Rabu (12-14/1) di gedung DPRD Surabaya dan Balai Kota.
Pemkot Surabaya Tetap Relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun
Meski memicu gelombang protes dari kalangan pedagang daging dan jagal, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetap akan merelokasi Rumah Potong Hewan (RPH) dari kawasan Pegirian ke Tambak Osowilangun.
Fikser menyebut rencana relokasi RPH sudah disosialisasikan sejak 2016 dan menjadi bagian dari penataan kawasan wisata religi Ampel. oleh karena itu, relokasi tetap dilakukan usai Hari Raya Idulfitri 2026.
“Mereka minta untuk tidak dipindah, tetapi kami coba jelaskan bahwa program ini sudah sejak 2016 dan sudah direncanakan dalam rencana pembangunan kota, termasuk penataan kota di kawasan religi," ucapnya, Selasa (13/1) kemarin.
"Isu-isu yang mereka sampaikan seperti jarak, kesiapan tempat, insya Allah kita dari pemerintah kota sudah siapkan untuk kendaraan pengangkut daging ketika disembelih, dan sebagainya,” tukas Fikser. (*)
