
Ilustrasi masyarakat sedang berbelanja. (Dokumentasi Jawa Pos)
JawaPos.com - Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Baktiono, mendorong pelaku UMKM agar tidak tertinggal dalam perkembangan bisnis digital.
Sebab di era sekarang, belanja online bukan lagi sebuah tren, tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Fleksibilitas waktu, tempat, dan banyaknya promo, membuat masyarakat gemar berbelanja lewat layar gawai
Terlebih di momen-momen tertentu, seperti Hari Raya Idulfitri atau Lebaran. Lonjakan pesanan kerap terjadi sejak awal bulan puasa. Masyarakat antusias berburu pakaian muslim hingga hampers Lebaran.
Baca Juga:Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Saksi Sejarah Peradaban Islam Sejak Kolonial hingga Tsunami 2004
Bachtiar menilai perkembangan bisnis digital tidak terelakkan dan terjadi di hampir semua sektor. Dampaknya tak main-main, mereka yang tak siap berkembang pun terancam gulung tikar alias bangkrut.
“Kita tidak bisa menghindari fenomena bisnis digital. Ini tantangan baru bagi pelaku UMKM kita di Surabaya. Buktinya banyak juga yang bukan produsen tapi berhasil dengan digitalisasi," ucapnya, Senin (16/3).
Menurut Baktiono, perubahan pola belanja masyarakat harus direspons dengan kesiapan pelaku usaha lokal agar tidak tertinggal. Ia menilai digitalisasi dapat menjadi peluang baru bagi UMKM untuk memperluas pasar.
Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi persaingan tidak sehat dalam perdagangan online, seperti praktik penjualan di bawah harga pasar hingga penipuan yang dapat merugikan konsumen maupun pedagang lain.
“Ada juga yang menjual di bawah harga produsen atau distributor, bahkan dengan cara yang tidak benar. Ini yang harus diwaspadai, karena bisa merugikan masyarakat dan pedagang yang jujur,” imbuhnya.
Untuk menghadapi persaingan digital, Pemkot Surabaya telah menyiapkan pelatihan, pendampingan, serta penyediaan platform pemasaran daring bagi para pelaku UMKM, yakni E-Peken.
“UMKM di Kota Surabaya sudah dididik, dilatih, bahkan difasilitasi supaya bisa berjualan secara digital. Mereka juga dibantu melalui aplikasi E-Peken milik Pemkot Surabaya,” terang politikus PDI Perjuangan tersebut.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga menyediakan ruang promosi bagi pelaku UMKM agar produknya semakin dikenal masyarakat, seperti ruang pamer di Mall Pelayanan Publik Siola, Jalan Tunjungan.
Baktiono berharap pelaku UMKM Surabaya tidak hanya mengandalkan cara konvensional dalam berdagang, tetapi mulai memanfaatkan teknologi agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
