
Ilustrasi hilir mudik di Bandara Internasional Juanda. (Humas Bandara Juanda)
JawaPos.com — Euforia mudik Lebaran 2026 terasa berbeda di Bandara Internasional Juanda. Bukan sekadar tempat transit, bandara ini berubah menjadi ruang nyaman yang memanjakan pemudik sejak pertama kali melangkah masuk.
Suasana ramai tak lagi identik dengan lelah dan bosan menunggu penerbangan. Kini, pemudik justru bisa bekerja, beristirahat, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga dengan lebih menyenangkan.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono melihat langsung perubahan tersebut saat melakukan pemantauan arus mudik.
Baca Juga:Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh Jumat 20 Maret, Umat Muslim Genapkan Puasa 30 Hari
Ia datang bukan hanya untuk inspeksi, tapi juga memastikan kesiapan transportasi Lebaran berjalan optimal.
"Kedatangan saya ini dalam rangka persiapan angkutan Lebaran ya. Termasuk juga angkutan wisata guna meningkatkan pariwisata yang ada di Jawa Timur," katanya saat memantau langsung arus mudik Lebaran di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Rabu (18/3/2026).
Dari pengamatannya, kondisi penerbangan selama arus mudik tahun ini terbilang cukup stabil. Bahkan, kapasitas angkut pesawat masih mampu mengakomodasi lonjakan penumpang tanpa kendala berarti.
Ia mengemukakan, di maskapai penerbangan ternyata untuk arus mudik ini masih relatif bagus dalam arti kapasitas dari kapasitas angkut pesawat atau suplai ini masih cukup.
Kondisi ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang sebelumnya khawatir akan lonjakan harga tiket.
Salah satu contoh nyata terlihat dari rute favorit Surabaya–Jakarta yang biasanya mahal. Tahun ini, harga tiket justru lebih ramah di kantong berkat kebijakan tertentu dari maskapai.
"Dan ini terbukti tujuan Surabaya-Jakarta dengan pesawat Citylink tarifnya hanya Rp600.000 dari yang biasanya Rp1.000.000 lebih," katanya.
Angka ini menjadi bukti mudik dengan pesawat kini bukan lagi pilihan eksklusif bagi kalangan tertentu saja.
Menurut Bambang, penurunan harga tersebut tidak terjadi begitu saja. Ada kebijakan strategis yang turut berperan dalam menekan biaya perjalanan udara.
