JawaPos.com - Timnas Inggris kembali memasuki babak baru dalam perjalanan panjang mereka di sepak bola internasional.
Setelah puluhan tahun gagal mengulang kejayaan di Piala Dunia 1966, federasi sepak bola Inggris kini menaruh harapan besar kepada Thomas Tuchel untuk membawa perubahan.
Pelatih asal Jerman tersebut resmi mengambil alih kursi pelatih Inggris dan langsung menjadi sorotan publik.
Bukan hanya karena statusnya sebagai pelatih asing, tetapi juga karena besarnya ekspektasi yang selalu mengiringi tim berjuluk The Three Lions itu.
Baca Juga: Thomas Tuchel Ungkap Kabar Tiga Pemain Arsenal yang Cedera saat Dipanggil Timnas Inggris
Sejak Sir Alf Ramsey membawa Inggris menjuarai Piala Dunia 1966, belum ada satu pun pelatih yang mampu mengembalikan trofi paling bergengsi di sepak bola dunia ke Wembley.
Sudah 60 tahun berlalu dan total 14 pelatih berbeda mencoba memutus penantian panjang tersebut.
Namun, hasilnya masih sama. Inggris kerap datang dengan skuad bertabur bintang, tetapi selalu gagal di momen penting.
Baca Juga: Thomas Tuchel Sebut Satu Pemain Asing yang Ingin Dia Panggil untuk Timnas Inggris
Tekanan besar menjadi salah satu alasan mengapa jabatan pelatih Timnas Inggris sering disebut sebagai pekerjaan paling sulit di dunia sepak bola.
Ekspektasi publik yang tinggi, sorotan media yang tajam, hingga sejarah panjang kegagalan membuat setiap pelatih selalu berada dalam tekanan.
Inggris sebenarnya beberapa kali mendekati prestasi besar. Pada Piala Dunia 1990 mereka mencapai semifinal, lalu kembali tampil kompetitif di era modern bersama Gareth Southgate. Sayangnya, keberhasilan itu belum cukup untuk menghapus rasa kecewa para suporter.
Kegagalan demi kegagalan juga meninggalkan luka panjang dalam sejarah sepak bola Inggris. Banyak momen pahit yang masih terus diingat hingga sekarang.
Mulai dari gol kontroversial Diego Maradona lewat “Hand of God” pada Piala Dunia 1986, kegagalan adu penalti di berbagai turnamen besar, hingga absennya Inggris dari Piala Dunia 1994.
Baca Juga: Thomas Tuchel Bela Ben White Usai Dicemooh Penggemar dalam Laga Inggris vs Uruguay
Situasi tersebut membuat tekanan terhadap pemain dan pelatih semakin besar dari generasi ke generasi.
Media Inggris pun dikenal sebagai salah satu yang paling keras di dunia olahraga. Tidak sedikit pelatih yang akhirnya menjadi sasaran kritik tajam ketika hasil tim tidak sesuai harapan.
Graham Taylor pernah menjadi bahan ejekan media setelah performa buruk Inggris pada awal 1990-an.
Sven-Goran Eriksson juga tidak lepas dari kritik meski sempat membawa Inggris tampil cukup stabil di turnamen besar.
Selain itu, beberapa pelatih lain juga kehilangan pekerjaannya akibat kontroversi di luar lapangan. Glenn Hoddle dan Sam Allardyce menjadi contoh bagaimana tekanan publik dan pemberitaan media bisa memengaruhi posisi seorang pelatih Timnas Inggris.
Di tengah situasi tersebut, Gareth Southgate sempat membawa perubahan suasana. Mantan bek Inggris itu hadir dengan pendekatan yang lebih tenang dan terbuka. Ia mencoba membangun hubungan yang lebih baik antara pemain, pelatih, dan media.
Southgate juga berhasil mengubah citra Inggris yang sebelumnya sering dianggap gagal ketika menghadapi tekanan besar.
Bersama dirinya, Inggris mampu mencapai semifinal Piala Dunia 2018 dan tampil konsisten di berbagai turnamen internasional.
Atmosfer di sekitar tim nasional perlahan menjadi lebih positif. Para pemain terlihat lebih nyaman, sementara hubungan dengan suporter juga membaik dibanding era sebelumnya.
Namun, tekanan besar tetap tidak bisa benar-benar hilang. Ketika hasil mulai menurun menjelang Euro 2024, kritik terhadap Southgate kembali muncul.
Pada akhirnya, ia memutuskan mengakhiri masa jabatannya setelah merasa siklus bersama tim sudah selesai.
Kini, Inggris mencoba membuka lembaran baru bersama Thomas Tuchel. Pelatih yang sebelumnya sukses bersama sejumlah klub besar Eropa itu datang dengan karakter berbeda dibanding pendahulunya.
Baca Juga: Thomas Tuchel Minta Trent Alexander-Arnold Terima Keputusan Dicoret dari Timnas Inggris
Tuchel dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan taktis yang detail dan komunikasi yang cukup lugas.
Pengalamannya menangani klub-klub besar seperti Chelsea, Paris Saint-Germain, dan Bayern Munchen membuat banyak pihak yakin ia mampu menghadapi tekanan besar di Inggris.
Menariknya, status Tuchel sebagai pelatih asing justru dianggap bisa menjadi keuntungan tersendiri.
Ia tidak tumbuh bersama trauma panjang sepak bola Inggris di turnamen besar. Karena itu, Tuchel dinilai memiliki sudut pandang yang lebih tenang dalam menghadapi tekanan publik dan media.
Hal tersebut berbeda dengan banyak pelatih lokal Inggris yang sering kali terbebani ekspektasi sejarah.
Ketika menangani tim nasional, mereka bukan hanya dituntut meraih hasil bagus, tetapi juga harus menghadapi bayang-bayang kegagalan masa lalu.
Tuchel kini memiliki tugas besar untuk mengubah cerita tersebut. Dengan materi pemain yang dianggap sebagai salah satu generasi terbaik Inggris dalam dua dekade terakhir, harapan publik tentu kembali meningkat.
Nama-nama seperti Harry Kane, Jude Bellingham, Phil Foden, hingga Bukayo Saka menjadi modal penting bagi Inggris untuk bersaing di level tertinggi.
Kombinasi pemain muda dan pengalaman membuat skuad Inggris tetap dipandang sebagai salah satu kandidat kuat di turnamen besar mendatang.
Meski demikian, sejarah membuktikan bahwa kualitas pemain saja tidak selalu cukup bagi Inggris. Mereka membutuhkan mentalitas kuat dan kestabilan dalam menghadapi tekanan pertandingan besar.
Di situlah peran Thomas Tuchel akan benar-benar diuji. Ia bukan hanya dituntut menghadirkan prestasi, tetapi juga harus mampu mematahkan kutukan panjang yang selama puluhan tahun membayangi sepak bola Inggris.
Jika berhasil, Tuchel tidak hanya akan dikenang sebagai pelatih sukses, tetapi juga sosok yang akhirnya mengakhiri penantian panjang Inggris untuk kembali menjadi juara dunia.