Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Januari 2025, 13.00 WIB

Keluh Kesah di Atas Piring ”Food Tray Stainless Steel”

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Mula-mula program PBH digas sekencang-kencangnya. Baik pemerintah maupun partai politik mengambil jatah masing-masing mengerjakan tugas operasi buta huruf ini. Partai bikin koran, bikin penerbit, bikin sekolah, adalah antara lain bagian dari operasi ini. Sementara, pemerintah membuat target, buta huruf pada tahun 1964 sudah mesti beres.

Setelah buta huruf beres, Soekarno bergerak ke lembaran kedua: operasi buta gizi. Bila operasi buta huruf jatuh ke pundak Departemen Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan, Pendidikan, PBG dipimpin Departemen Kesehatan.

Nah, Departemen Kesehatan ini punya lembaga bernama LMR atau Lembaga Makanan Rakyat. Profil lembaga ini saya baca kali pertama di majalah Djaja yang terbit mingguan di edisi 14 November 1964. Ini kuartal puncak target operasi buta huruf dievaluasi, apakah Indonesia sudah bebas buta huruf atau belum.

Fungsi LMR ini adalah riset dan pendidikan. Menyelidiki nilai-nilai makanan di laboratorium dan menyelidiki makanan yang dimakan rakyat di desa, di pabrik. Laboratorium diminta bekerja maksimum karena hasilnya diajukan ke forum internasional, yaitu Kongres Pediatrik Asia-Afrika di Jakarta.

Lahirlah konsepsi gizi yang sangat legendaris: ”4 sehat 5 sempurna”.

Begini kutipan pidato Menteri Kesehatan Mayor Jenderal TNI (Purn) Prof Dr Satrio: ”Saja telah mendirikan Komando Operasi Pemberantasan Buta Gizi yang diadakan ditiap-tiap daerah tingkat I dan II dan perbedaannja dengan 4 sehat, jalah bahwa, unsur-unsur 4 sehat itu disesuaikan dengan keadaan di-daerah. Semua unsur karbohidrat (hidrat arang) kita mobilisir kembali: beras, djagung, tjantel djawawut, ketela, ubi, sagu, kentang. Semua unsur protein hewani dan nabati pun kita mobilisir: ikan laut, ikan darat, aneka matjam ternak, termasuk kelintji, dan aneka matjam katjang2an, seperti katjang tanah, katjang idjo, kedele, koro, dll. Buah2an Indonesia terkenal baiknja dan banjaknja variasinja sebagai sumber vitamin, demikian pula sajur-majurnja.”

Operasi buta gizi yang melibatkan seluruh departemen dan merupakan bagian dari apa yang disebut ”Revolusi Menu” ini membawa semboyan: 4 sehat, 5 sempurna.

Saya kutipkan secara verbatim apa yang disebut dengan ”4 sehat, 5 sempurna” yang diistilahkan juga dengan menu seimbang (well-balanced diet) itu:

1. Nasi, djagung, ubi, dll -- sumber hidrat arang.

2. Daging, ikan, katjang2an -- sumber protein.

3. Sajur -- sumber vitamin dan mineral.

4. Buah -- sumber vitamin dan mineral.

Kalau kita makan empat matjam bahan ini, kita sudah sehat, kalau ditambah susu (ke-5) mendjadi sempurna.

Sebagai bagian dari suatu operasi, PBG ini diserahkan ke daerah-daerah. Sebab, beda daerah beda bahan. Beda daerah beda pengolahannya.

Multikultural bahan dan kompleksitas cara pengolahan makanan itu disadari betul sejak awal. Main drop dari pusat bukan saja keliru, tetapi juga menyalahi tabiat keragaman sifat makanan itu sendiri. Bukti dari tesis itu adalah tatkala proyek nasional pengumpulan resep masakan ”Mustika Rasa” yang digalakkan pada 1964 itu kita bisa baca setelah dibukukan kali pertama pada 1967.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore