Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Februari 2025, 18.17 WIB

Budaya Sintetis

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Dalam konteks ini, budaya sintetis dapat kita tengarai sebagai puncak dari logika Barthesian tentang teks dan kepenulisan. Narasi yang diciptakan AI bukan hanya meniru, tetapi juga mendekonstruksi konsep orisinalitas dengan cara yang radikal. Hasilnya adalah konten yang tampak kreatif, namun sebenarnya hanyalah hasil komputasi probabilitas matematis. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, ”Alih-alih menjadi jembatan pengetahuan dan pengalaman antargenerasi, budaya sintetis berpotensi menjadi ilusi informasi yang dangkal dan terlepas dari konteks historis serta makna aslinya.”

Di sini, kita melihat bahwa budaya sintetis bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan juga kelanjutan dari dekonstruksi budaya yang telah diramalkan Barthes, di mana penulis (atau pencipta) sepenuhnya lenyap, digantikan oleh algoritma yang tanpa subjektivitas dan pengalaman manusia.

Budaya sintetis adalah paradoks abad ini. Di satu sisi, ia menawarkan kemudahan dan efisiensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memproduksi dan menyebarkan informasi. Namun, di sisi lain, ia menyelubungi kita dalam realitas artifisial yang mengikis otoritas pengetahuan dan otentisitas budaya. (*)

---

ROKIB MOHAMMAD, Alumnus dan kini peneliti di IZO-ECR, Universitat Goethe, Jerman; dosen sastra Indonesia di Unesa

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore