Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Maret 2025, 23.45 WIB

Fandom

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Budaya Populer

Budaya populer dan kritik sosial bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Ariel Heryanto (2012) menyebut bahwa Rhoma Irama adalah ikon dari kondisi itu. Lirik-lirik dalam musiknya kala itu sarat kritik sosial yang menggugat status quo. Rhoma Irama mengabdikan bakatnya pada ragam musik dangdut (campuran unsur-unsur musik Melayu, India, dan Arab), sesuatu yang pada masa itu masih dianggap bermutu rendah, kasar, dan berselera artistik buruk.

Heryanto juga menegaskan bahwa Rhoma Irama mencetak sejarah dalam ranah budaya pop Indonesia secara umum. Rhoma mempunyai banyak sekali penggemar dan mampu menjadikan dangdut sebagai mesin penghasil uang yang berlipat-lipat, tentu dalam konteks itu memanfaatkan televisi sebagai alat yang strategis. Sementara dalam konteks politik, dangdut juga kerap menghadapi pencekalan dari pemerintah kala itu. Dangdut dicekal di satu-satunya jaringan televisi milik negara yang ada saat itu (TVRI) dan di tiap stasiun radio. Ironisnya, tekanan dan penistaan terhadap dangdut justru membuat musik ini jadi lambang pembangkangan politik orang-orang kelas menengah Indonesia di perkotaan, meskipun hal tersebut tidak bertahan lama.

Gambaran di atas menegaskan bahwa budaya populer dalam banyak ruang bersentuhan dengan kuasa negara. Meskipun tidak secara langsung, relasi keduanya menarik untuk diulas. Di satu sisi, budaya populer kerap menjadi sarana melakukan kritik terhadap negara. Tetapi, di sisi lain, banyak digunakan sebagai sarana mempertahankan atau memperoleh kekuasaan pada setiap pemilu.

Dalam banyak momentum, aktor-aktor politik memanfaatkan budaya populer sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Hal tersebut secara nyata bisa kita saksikan dalam momentum pemilu yang sudah-sudah. Hampir semua calon memanfaatkan instrumen budaya populer untuk mencitrakan diri. Fandom dijadikan bagian penting dari meraup suara publik. Para kandidat sibuk memoles diri untuk dekat dengan segmen pemilih muda atau digital native yang persentasenya relatif besar.

Perjumpaan budaya populer, media digital, dan kekuasaan adalah sesuatu yang menarik. Banyak memunculkan hal-hal baru yang tidak diperkirakan. Budaya populer terus bertransformasi dan bergerak ke sesuatu yang baru dan menarik untuk kita amati. Tidak jarang melawan kekuasaan dan tidak jarang pula dimanfaatkan kekuasaan untuk mempertahankan legitimasinya. (*)

*) Radius Setiyawan, Dosen pengampu mata kuliah cultural studies DKV UM Surabaya

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore