
Asap meningkat menyusul ledakan di tengah serangan militer Israel di Kota Gaza, terlihat dari Jalur Gaza tengah, 6 Oktober 2025. perundingan Hamas-Israel terus berlangsung. (Dawoud Abu Alkas/ Reuters)
JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyampaikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan damai antara Palestina dan Israel. Hal ini setelah Israel berencana menarik pasukan dari jalur Gaza, Palestina.
Meski adanya kesepakatan damai antara Israel dan pasukan Hamas, ia mengingatkan semua pihak agar tetap waspada terhadap potensi perdamaian semu.
"Setelah upaya negosiasi terus-menerus untuk membicarakan gencatan senjata dan perdamaian, kita bersyukur akhirnya tercapai kesepakatan antara Palestina dan Israel dengan mediator," kata Sukamta kepada wartawan, Minggu (12/10).
Menurut dia, kesepakatan tersebut merupakan perkembangan penting dalam proses negosiasi kedua pihak. Meskipun baru menjadi langkah awal, Sukamta menilai perjanjian ini membuka jalan menuju perdamaian yang lebih luas di kawasan.
“Karena perdamaian ini baru akan memasuki tahap I, yaitu pembebasan sandera, penarikan IDF ke garis-garis yang disepakati, serta pembukaan blokade bantuan kemanusiaan," ujarnya.
Legislator Fraksi PKS itu menegaskan agar semua pihak tidak terlena dengan euforia awal. Ia mengingatkan, Israel kerap mengingkari kesepakatan gencatan senjata.
"Jangan sampai ini menjadi perdamaian semu. Karena track record Israel selama ini tidak menginginkan perdamaian. Hampir selalu Israel mengkhianati kesepakatan gencatan senjata," tegasnya.
Menurutnya, sikap Hamas kini cukup terbuka dan moderat. Hamas bahkan bersedia tidak terlibat dalam pemerintahan asalkan Palestina bisa merdeka sepenuhnya.
Namun, ia mengkritisi proposal perdamaian yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena dinilai tidak tegas menyebutkan pengakuan atas kemerdekaan Palestina.
"Tidak fair jika Israel sudah merdeka, tapi Palestina tidak diakui kemerdekaannya secara penuh,” tutur Sukamta.
Sukamta menekankan pentingnya peran aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam proses transisi perdamaian tersebut. Ia menekankan, PBB sebagai lembaga internasional harus dilibatkan secara maksimal, bukan hanya sebagai stempel.
Ia berharap kesepakatan yang tercapai dapat benar-benar mengarah pada perdamaian sejati dan kemerdekaan penuh bagi Palestina.
"Semoga kesepakatan ini berhasil melalui setiap tahapannya menuju perdamaian yang sejati dan kemerdekaan penuh Palestina. Kita semua harus terus mengawal ketat agar tetap on the track,” pungkasnya.
