
Tangkapan layar CCTV detik-detik aktivis KontraS Andrie Yunus disiram air keras di Salemba, Jakarta Pusat. (Istimewa)
JawaPos.com-Rangkaian teror terhadap aktivis, jurnalis, hingga figur publik kembali menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Bentuknya kian beragam, mulai dari kekerasan fisik, intimidasi simbolik, hingga ancaman melalui ruang digital.
Fenomena ini memperlihatkan pola yang berulang. Serangan kerap terjadi setelah individu menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik atau mengangkat isu sensitif. Metode yang digunakan pun tidak tunggal, mulai dari penyiraman air keras, pengiriman benda intimidatif, hingga perusakan properti.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai, teror terhadap figur kritis bukan sekadar serangan personal. Lebih dari itu, tindakan tersebut berdampak pada menyempitnya ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi. Penanganan hukum yang tegas pun dinilai krusial untuk memberikan efek jera dan perlindungan bagi masyarakat.
Berikut tujuh kasus yang mencuat ke publik dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir:
1. Andrie Yunus: Disiram Air Keras
Aktivis HAM Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras pada Maret 2026 di Jakarta. Serangan dilakukan oleh dua orang tak dikenal di ruang publik.
Insiden tersebut terjadi tak lama setelah ia aktif mengkritik pembahasan RUU TNI serta menyoroti peran militer di ranah sipil. Sebelum serangan, korban juga disebut mengalami berbagai bentuk intimidasi, termasuk pengawasan dan gangguan komunikasi.
