
Ilustrasi penangkapan terduga teroris.
JawaPos.com - Masyarakat yang berpikiran normal pasti bertanya: bagaimana bisa seseorang dapat menggerakkan dirinya untuk melakukan bom bunuh diri, termasuk keluarganya? Pikiran semacam apa yang menggerakkan seseorang melakukan tindakan teror? Bagaimana bisa seseorang yang alim dapat menorehkan kejahatan kemanusiaan luar biasa?
Jawabannya sederhana: mereka (para ideolog kelompok teror) membuat agama menjadi begitu praktis.
Dari yang semula abstrak menjadi serbahitam-putih. Seolah-olah memberikan tujuan yang jelas. Mereka mempunyai konsep tauhid yang berbeda dengan kebanyakan aliran Islam lainnya. Juga pemahaman jihad yang berbeda.
Untuk bisa mengatasi terorisme, hal pertama yang harus dilakukan ialah mengenali sebaik-baiknya apa itu ideologi yang berada di dalam kepala para teroris ini.
***
Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan sejumlah kelompok teror modern Indonesia lainnya mempunyai akar terhadap dua kelompok teror paling ditakuti di muka bumi: Al Qaeda dan ISIS. Meski saling serang di Timur Tengah, perbedaan dua tanzhim tersebut tak banyak. Sama-sama mempunyai akidah ahlussunah wal jamaah sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Atau yang biasa dikenal dengan sebutan salafi.
Namun, salafi ini masih mempunyai sejumlah aliran. Al Qaeda dan ISIS, serta sejumlah kelompok pengikutnya, memandang jihad sebagai ibadah yang utama. Menurut sejumlah ulama rujukan mereka seperti Ibnu Taimiyyah atau Syekh Abdullah Azam, jihad menempati urutan nomor dua setelah syahadat. Ia lebih penting ketimbang salat, puasa, zakat, dan melakukan ibadah haji.
Dalam gerakan Islam, kelompok tersebut dikenal dengan aliran salafi jihadi. Poin pertama sudah ketemu. Bagi orang-orang yang meledakkan diri di Sibolga kemarin pagi, jihad adalah amalan yang utama.
Pernah saya berdiskusi dengan sejumlah pentolan tanzhim ini soal jihad. Terutama tentang hadis yang menyebutkan, Rasul bersabda bahwa jihad dalam peperangan adalah jihad kecil. Sementara jihad mengalahkan diri sendiri adalah jihad akbar. Reaksinya, dengan menyitir sejumlah ayat yang jauh lebih banyak, mereka mengatakan bahwa kesahihan hadis tersebut diragukan. Bagi mereka, jihad adalah berperang. Titik. Tidak ada arti lainnya. Simpel. Sederhana. Tidak terasa abstrak, seperti "jihad melawan diri sendiri".
Selain itu, dalam kondisi sekarang, jihad yang berlaku adalah fardu ain. Artinya, jihad yang menjadi kewajiban tiap muslimin. Ini adalah ibadah seumur hidup. Ibadah yang tak akan selesai -kecuali setelah nyawa pergi dari badan. Seperti salat. Kewajiban yang tak pernah hilang selama hayat dikandung badan.
Konsep jihad ini masih belum selesai. Pemahaman jenis jihad seperti apa yang dilakukan akan menjelaskan kenapa pelaku bom bunuh diri sekarang juga tak ragu untuk membawa anak-istrinya. Mereka memahami bahwa jihad yang mereka lakukan sekarang adalah jihad difai. Atau jihad defensif. Jangan terkecoh makna defensif, yang seakan bertahan. Sebab, jihad jenis itu tak memerlukan berbagai persyaratan.
Seorang perempuan boleh keluar untuk perang tanpa seizin suaminya dengan tetap didampingi mahramnya. Seorang anak kecil bisa melakukan serangan tanpa perlu izin orang tua. Pendek kata, apa pun yang bisa dilakukan untuk menyerang, ya akan menyerang. Meski hanya pakai batu bata sekalipun.
Itu menjelaskan bagaimana serangan-serangan teroris dalam setahun terakhir sangat spekulatif dan menggunakan anak-istri (kasus bom Surabaya Mei 2018). Penggunaan jihad jenis itu juga menunjukkan jenis tauhid mereka. Secara umum, mereka seperti kaum salafi lainnya. Yang mengharamkan ziarah kubur, yang menitikberatkan pada pengharaman bidah, dan cenderung untuk "mengislamkan" orang Islam lainnya yang tak seideologi. Namun, mereka mempunyai pembeda yang jelas terkait dengan negara. Mereka membagi dunia menjadi dua, yakni daulah Islam dan negara kafir.
Dalam salah satu dari poin-poin akidah yang disebarkan secara lisan dan tertulis, pemimpin pertama ISIS Umar Al Baghdadi menyebutkan bahwa memerangi negeri-negeri yang tidak berdasar syariat Islam hukumnya lebih wajib ketimbang memerangi kerajaan salibis. Maka, bagi pengikut ISIS, memerangi Indonesia hukumnya lebih wajib.
Meski tentu saja tidak ada jaminan non-Islam juga tidak diserang dalam rangka jihad. Pengeboman tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 menjadi buktinya.

Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Jelajah 13 Kuliner Kebab di Surabaya yang Murah Meriah Isian Melimpah dan Rasa Juara
Rekomendasi 11 Kuliner Serba Kikil di Surabaya yang Empuk, Gurih dan Bumbu Khas yang Nendang
Prabowo Putuskan Biaya Haji Turun Rp 2 Juta di Tengah Kenaikan Harga Avtur Global
Pengganti Bruno Moreira Sudah Ditemukan? Winger Rp 1,74 Miliar Ini Bikin Persebaya Surabaya Punya Senjata Baru
Update 4 Rumor Transfer Bintang Timnas Indonesia Musim Depan! Libatkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya dan PSV Eindhoven
Donald Trump Tegaskan Pasukan Amerika Serikat Tetap di Sekitar Iran dan Siap Lakukan Penaklukan Berikutnya
Prediksi Persita vs Arema FC: Laga Panas BRI Super League, Singo Edan Incar Curi Poin
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
