
Ilustrasi seorang perempuan tengah menguji kehamilan secara mandiri dnegan alat uji kehamilan. (Freepik)
JawaPos.com - Seiring perubahan gaya hidup dan prioritas karier, usia perempuan saat memiliki anak pertama kini cenderung lebih matang. Di Singapura, misalnya, data menunjukkan tren yang serupa: median usia ibu yang melahirkan anak pertama naik dari 30,6 tahun pada 2018 menjadi 31,9 tahun pada 2022 (The Straits Times), dan terus meningkat menjadi 31,6 tahun pada 2023 (Mothership.sg). Penundaan ini dipengaruhi faktor sosial, pendidikan, hingga ekonomi—namun juga membawa risiko meningkatnya infertilitas akibat usia.
Meski pengobatan modern telah banyak membantu, kemampuan medis untuk mengatasi infertilitas karena penuaan tetap terbatas. Beruntung, kini ada solusi melalui pembekuan sel telur (kriopreservasi)—prosedur yang memungkinkan perempuan menjaga kualitas sel telurnya sejak dini untuk digunakan saat mereka siap hamil.
“Teknologi pembekuan sel telur memberi kesempatan bagi perempuan untuk merencanakan kehamilan tanpa dibatasi oleh usia biologis,” jelas dr. Erik Sutandi, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Alpha Women’s Specialists Jakarta. “Dengan membekukan sel telur di usia yang tepat, peluang keberhasilan kehamilan di masa depan bisa tetap tinggi.”
Egg Frizeeng Bukan Jaminan Hamil
Secara alami, kesuburan wanita mulai menurun di akhir usia 20-an dan menurun signifikan setelah 35 tahun karena berkurangnya jumlah serta kualitas sel telur. Menurut studi Doyle dkk., tingkat kelahiran hidup dari sel telur beku menurun seiring bertambahnya usia: 7,4% untuk usia.
Namun, penting diingat bahwa sel telur beku tidak otomatis menghasilkan kehamilan. Saat wanita siap hamil, sel telur tersebut harus dicairkan (thawed), kemudian dibuahi dengan sperma melalui proses ICSI, dan embrionya ditanamkan ke rahim melalui IVF.
Di setiap tahapan ini, masih ada risiko — mulai dari penurunan kualitas sel telur saat pencairan, gagal fertilisasi, hingga embrio yang tidak berkembang dengan baik. Semua ini bisa mempengaruhi peluang hamil meskipun telur sudah dibekukan di usia muda. “Yang sering dilupakan adalah bahwa proses setelah pembekuan jauh lebih kompleks,” jelas dr. Erik.
“Kualitas hasil akhir sangat bergantung pada keahlian tim embriologi, teknologi laboratorium, dan cara penanganan telur saat thawing dan fertilisasi," tambahnya.
Usia dan Biaya
Namun, membekukan sel telur terlalu dini juga tidak selalu efisien. Banyak wanita di bawah 30 tahun yang akhirnya tidak menggunakan sel telur beku karena bisa hamil secara alami. Sebaliknya, pembekuan di usia lebih dari 40 tahun cenderung kurang berhasil dan membutuhkan biaya lebih besar karena membutuhkan lebih banyak siklus stimulasi untuk mengumpulkan lebih banyak sel telur, atau bahkan dengan dosis obat yang lebih tinggi agar ovarium tetap merespons.
Studi pada tahun 2015 menunjukkan bahwa usia ideal untuk membekukan sel telur adalah antara 32 hingga 37 tahun—saat kualitas sel telur masih baik, namun keputusan finansial dan emosional sudah lebih matang.
“Kami biasanya menyarankan pembekuan sel telur di usia awal hingga pertengahan 30-an,” tambah dr. Erik. “Usia ini adalah titik keseimbangan terbaik antara kualitas sel telur dan kesiapan mental maupun ekonomi.”
Secara teori, sel telur dapat disimpan lebih dari 10 tahun tanpa kehilangan kualitas. Saat wanita siap hamil, sel telur akan dicairkan, dibuahi melalui ICSI, lalu ditanamkan ke rahim.
Egg freezing bukan sekadar “menyimpan masa depan”, tetapi juga investasi emosional dan biologis. Keberhasilan kehamilan tidak hanya ditentukan oleh usia saat pembekuan, tetapi juga oleh teknologi laboratorium yang digunakan, integritas sel telur saat thawing, serta pengalaman tim IVF yang menangani proses fertilisasi dan transfer embrio.
Dengan memilih pusat IVF berteknologi tinggi dan berpengalaman, perempuan bisa memaksimalkan peluang untuk mewujudkan impian menjadi seorang ibu — kapan pun mereka siap.
Mau mendapatkan informasi terlengkap terkait IVF, klik disini.
