
Ilustrasi: Serangan Iran ke negara-negara UEA sebabkan beberapa korban jiwa. (ArmenPress)
JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan yang diluncurkan oleh Iran ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA), dilaporkan menewaskan sejumlah orang dan memicu respons pertahanan udara besar-besaran dari militer UEA.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan bahwa sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat enam rudal balistik dan 21 drone yang diluncurkan dari Iran pada 16 Maret.
Intersepsi dilakukan saat aparat keamanan berada dalam status siaga tinggi untuk menghadapi potensi ancaman terhadap keamanan nasional.
Menurut pernyataan resmi kementerian, unit pertahanan udara UEA berhasil menghadapi seluruh proyektil tersebut sebelum mencapai target.
Baca Juga:Harga Minyak Dunia Meroket Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Purbaya Pastikan APBN Masih Kuat
Pemerintah menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari apa yang mereka sebut sebagai 'serangan terang-terangan Iran'.
Sejak eskalasi militer dimulai, pertahanan udara UEA tercatat telah mencegat total 304 rudal balistik, 15 rudal jelajah, serta 1.627 drone. Angka tersebut menggambarkan skala konflik yang terus meningkat di kawasan.
Melansir Gulf News, serangan tersebut juga menimbulkan korban jiwa. Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi dua anggota angkatan bersenjata UEA tewas saat menjalankan tugas negara dalam upaya melindungi wilayahnya.
Selain korban dari kalangan militer, lima warga sipil juga dilaporkan meninggal dunia. Mereka berasal dari berbagai negara, yakni Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Palestina.
Tidak hanya korban tewas, serangan tersebut juga menyebabkan 145 orang mengalami luka-luka dengan tingkat cedera yang bervariasi, mulai dari ringan hingga serius.
Para korban luka berasal dari berbagai kewarganegaraan. Termasuk warga Emirat, Mesir, Sudan, Ethiopia, Filipina, Pakistan, Iran, India, Bangladesh, Sri Lanka, Azerbaijan, Yaman, Uganda, Eritrea, Lebanon, Afghanistan, Bahrain, Komoro, Turki, Irak, Nepal, Nigeria, Oman, Yordania, Palestina, Ghana, Indonesia, hingga Swedia.
Kementerian Pertahanan UEA menegaskan bahwa angkatan bersenjata negara itu tetap berada dalam kesiapan penuh untuk merespons setiap ancaman keamanan.
Pemerintah UEA juga memastikan akan mengambil langkah tegas terhadap setiap upaya yang mengganggu stabilitas negara.
“Melindungi kedaulatan, stabilitas, dan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama,” kata kementerian dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa pasukan pertahanan terus memantau perkembangan situasi dan menjaga kesiapan operasional.
