
Ilustrasi seseorang yang menunjuk dirinya sendiri. (cookie_studio/freepik)
Mereka akan terus menerus mencari tanda-tanda kebohongan atau pengkhianatan, bahkan dalam situasi yang normal dan tidak mengancam.
Contoh tindakannya seperti memeriksa ponsel pasangan secara diam-diam, meragukan penjelasan sederhana, atau menginterpretasi tindakan biasa saja sebagai hal yang mencurigakan.
Kesulitan untuk Membuka Diri
Seseorang yang memiliki trust issue cenderung menutup diri untuk berbagi perasaan atau informasi kepada orang lain.
Alasan di baliknya adalah mereka takut disakiti, dimanfaatkan atau dihakimi jika mengungkapkan kerentan yang mereka miliki.
Akibatnya, mereka mungkin kesulitan membangun hubungan yang dekat dan intim. Hal ini juga bisa dilatarbelakangi oleh pengalaman traumatis di masa lalu yang membuat seseorang tersebut menutup diri.
Takut Dikhianati
Ketakutan konstan akan membuat seseorang takut untuk dikhianati. Ketakutan yang berlebih ini membuat mereka menghindari situasi yang melibatkan kepercayaan, seperti menjalin hubungan romantis yang serius atau berteman dengan orang baru.
Isolasi Diri
Karena kondisi krisis kepercayaan, seseorang akan mengisolasi dirinya sendiri dari interaksi sosial. Mereka merasa lebih nyaman dan aman sendirian ketimbang berinteraksi dengan orang lain yang dianggap sebagai potensi kekecewaan.
Sulit Memaafkan Orang Lain
Orang dengan trust issue cenderung sulit memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, bahkan kesalahan kecil sekalipun.
Mereka akan terus mengingat kesalahan yang pernah terjadi dan menggunakannya sebagai alasan untuk tidak memercayai orang tersebut lagi.
Rasa Khawatir Berlebih
Rasa khawatir yang berlebihan, terutama saat memulai atau berada dalam sebuah hubungan, dapat menjadi tanda trust issue. Kekhawatiran ini bisa berupa takut disakiti, ditinggalkan atau dikecewakan.
