
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Bisa kulihat ribuan komentar bertengger di sana. Melepeh berlian demi secirit tahi adalah komen teratas yang kubaca dengan mual.
”Kau lapar? Ibu masak kerang dan bebek.”
Aku tak menjawab, hanya menyambar selembar roti tawar.
Ponselku malam itu berdenting-denting. Pesan dari teman-teman sekolah lamaku masuk bertubi-tubi. ”Itu ayahmu kan yang lagi viral?” tanya Salima. ”Dasar pelacur busuk cewek itu,” kata Rubi. Dan masih ada ratusan sumpah serapah lain. Maka, kublokir semua nomor mereka dan menghapuskannya dari daftar nama.
Entah sudah berembus sampai mana berita itu, tetapi aku merasa setiap orang yang berpapasan denganku seakan memelototiku dari tepi kuncir sampai ujung sepatu. Karena itu, aku hanya berjalan dan menatap satu titik kabur di depan.
Sekonyong-konyong kulihat seorang lelaki di ujung gang pesing yang hendak kulintasi. Ketika semakin dekat dengannya, aku bisa mengenali itu ayah. Ia menatapku sedih.
”Abaikan berita viral itu, ya?”
Aku hendak bilang pergi saja ke tartarus, tetapi aku diam saja. Ayah mendekatiku, menepuk bahuku, dan menyelipkan lembaran uang di sakuku.
”Ibumu gila, tetapi ayah takkan menyalahkanmu,” katanya dan aku berharap Sisifus melindasnya dengan batu raksasa.
”Aku tahu kamu mungkin marah dengan ayah. Tetapi pernikahan adalah hal yang rumit. Kelak jika sudah dewasa kau akan mengerti.” Mendengar itu, aku bersumpah tak ingin menjadi dewasa.
Ketika aku sampai rumah, ibu sudah menungguku. Tak seperti hari kemarin, kali ini wajahnya badai.
”Ayah meminta hak asuh untukmu,” ujar ibu dengan bergetar.
”Dia tetap ingin bercerai. Tetapi meminta dirimu. Bukan aku,” ujar ibu lagi.
”Jadi nanti kau tinggal dengannya. Jadi nanti kalian bahagia. Tapi aku sendiri. Aku tak ingin dia bahagia. Seharusnya dia menderita sama denganku,” ujar ibu lagi dengan suara serak, tapi kali ini dengan menempelkan pisau buah di leherku.
Aku teringat cerita tentang Medeia yang membunuh anak-anaknya demi membalas dendam kepada suaminya, dan mungkin ibu sedang kesurupan dewi itu. Aku diam saja dan menunggu pisau itu memotong urat nadiku karena kupikir itu lebih baik sebab aku sudah bosan makan roti.
