Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 April 2022, 22.17 WIB

Badut-Badut Kota

Photo - Image

Photo

Pesona Jakarta masih menyilaukan mata para kaum urban dari berbagai daerah Indonesia, untuk mencari pundi-pundi rupiah. Namun, gemerlapnya kota megapolitan ini juga masih menyisakan banyak tanda tanya dan jurang yang menganga, antara Si Kaya dan Si Miskin. Sehingga tak semuanya bisa mendapatkan apa yang ingin diraihnya, di kota yang sebentar lagi akan ditinggalkan sebagai Ibu Kota Negara.

Kuswandi, Jakarta

DERAP langkah kaki ribuan pasang sepatu dari berbagai penghuni dan tamu Apartemen Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan hilir mudik berjalan di depan Uni, 57, yang bersandar di lorong samping pintu masuk Gate 2, Kamis (14/4) malam. Meski ribuan pasang kaki sudah berlalu lalang di depannya. Perempuan paruh baya asal Pariaman, Sumatera Barat ini tak menghiraukannya. Usai menaruh bagian kepala boneka badutnya, tangan mungilnya yang lusuh tampak pelan menyantap nasi bungkus yang dibelinya dari warung, di sepanjang tepi jalan kawasan apartemen seluas 12 hektar ini.

“Nama saya Uni,” demikian ia minta siapa. Uni langsung buru-buru menghentikan makannya ketika JawaPos.com menyambanginya. Disela-sela perbincangannya dengan JawaPos.com, Dia tak henti-hentinya mendoakan setiap orang yang memberi uang recehan hingga uang kertas di celengan kusut, di atas topi badutnya yang dibalik.

“Terima kasih pak, terima kasih bu, semoga sehat selalu,” katanya merapal doa, usai diberi uang seseorang yang melintas di depannya.

Menjadi seorang badut kota, bukanlah pekerjaan yang lama digelutinya. Sebab sebelumnya, janda beranak satu ini mengaku sebagai pedagang kaki lima di area stasiun KRL Sudirman, Jakarta Pusat.

“Sebelum pandemi Uni jual kue-kue. Lumayan waktu itu ramai. Penghasilan juga lumayan. Tapi pas pandemi sepi karena orang kantoran pada kerja dari rumah. Jadi Uni terpaksa jadi badut,” ungkapnya.

Sebenarnya menurut Uni, dirinya sudah dilarang berkeliling menjadi Badut oleh Buyung,20, anaknya. Namun, untuk memenuhi hidup keluarganya, Uni terpaksa menjadi Badut karena penghasilan anaknya dirasa belum cukup untuk membuat dapur mengebul. Dia tak ingin kejadian tak mengenakan dialaminya lagi. Diusir oleh sang empunya kontrakan, karena menunggak membayar uang sewa bulanan.

“Tengah malam waktu itu, pas pertengahan pandemi. Saya diusir, padahal yang punya kontrakan orang satu suku juga. Untung ada pemilik kontrakan lain yang baik hati. Kemudian menampung saya malam itu juga,” ucapnya memelas.

Sebelum menjadi Badut, dua puluh dua tahun lalu, Uni merantau ke Jakarta. Saat itu, kondisi perekonomiannya lumayan bagus. Karena suaminya punya usaha konveksi di bilangan Kampung baru, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Namun, gara-gara Uda,62, tak bisa lepas dari judi dan mabuk-mabukan. Usahanya bangkrut karena banyak terjerat utang. “Sekarang suami udah meninggal lima tahun lalu. Meninggal karena sakit,” urainya.

Selepas suaminya meninggal, Uni pun enggan berpangku tangan. Dia mencoba bangkit dan bekerja berjualan kue untuk menghidupi Buyung anak semata wayangnya. Namun sayang, usahanya gulung tikar karena sepinya pembeli akibat para pekerja kantoran yang saban hari turun di Stasiun Sudirman, tak ada yang melintas lagi saat pandemi tiba.

Kini ia terpaksa menjadi Badut meskipun sudah kerap dilarang anaknya. ”Anak saya melarang, karena saya sudah tua. Diminta istirahat saja dan ibadah, biar dia yang bekerja mencari nafkah,” kata perempuan yang tinggal di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini. Namun atas saran tersebut, Uni tak mau menggubrisnya. Sebab, dia tak ingin merepotkan anak semata wayangnya.

Rencanannya, usai tabungannya cukup dari hasil menjadi Badut, pasca lebaran, Uni berencana akan kembali melanjutkan usahanya lagi berjualan kue.” Mudah-mudahan nanti modalnya cukup untuk jualan kue lagi,” tukasnya tanpa mau menyebut berapa persisnya tabunganya dari hasil menjadi Badut.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore