Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Februari 2022, 17.30 WIB

Cinta yang Setara

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Konon, cinta dinyatakan tidak ada logikanya, cinta itu membuat orang mabuk kepayang, bahkan bisa membuat orang menjadi tergila-gila. Kisah cinta dituliskan dalam karya prosa dan puisi, didendangkan menjadi lagu-lagu infatuasi yang liriknya mendayu-dayu. Penggambaran cinta yang romantis mendominasi pemaknaan kita tentang cinta.

---

CINTA digambarkan sebagai sesuatu yang ajaib, sesuatu yang magis dan tanpa cela. Pencarian cinta semacam ini, cinta yang ideal dan sempurna, adalah bagian dari mitos yang telah bertahan semenjak dahulu kala.

Tidak semua berserah pada daya tarik mitos tersebut. Simone de Beauvoir, seorang filsuf perempuan asal Prancis, mengusulkan pengertian cinta yang lebih progresif dan kritis. Karya Beauvoir yang berjudul The Second Sex (1949) merupakan karya penting yang mendorong perkembangan pemikiran dan gerakan pembebasan bagi perempuan. Menggunakan perspektif feminis, ia membongkar bahwa konsep cinta sebetulnya adalah konstruksi sosial. Kita dapat mencermati tata cara dalam percintaan hingga aturan-aturan peran bagi laki-laki dan perempuan yang sejatinya berfungsi untuk menegaskan nilai-nilai hierarkis dalam masyarakat.

Beauvoir mengkritik kebiasaan pendewaan pada orang yang dicintai (idolatrous love). Dalam pandangan saya, keberatan Beauvoir pada aktivitas cinta seperti ini terkait dengan fantasi yang diproyeksikan kepada pasangan, yang sering kali berbeda dari kenyataan. Tindakan idolisasi ini membuat seseorang mencintai dengan menggebu-gebu dan penuh obsesi tanpa mempertimbangkan secara sungguh-sungguh hubungan yang ada. Bagi Beauvoir, idolisasi berarti menerima subjugasi dan menyangkal kebebasan diri.

Sementara itu, selama ini kita disuguhi gagasan yang mengimpikan cinta sejati, yakni cinta yang menyatukan dua manusia. Pandangan romantis tentang penyatuan dapat ditelusuri hingga ke masa Yunani Kuno, yakni pada pemikiran Plato tentang belahan jiwa. Dalam karyanya yang berjudul Symposium, melalui salah satu tokoh bernama Aristophanes, ia bercerita ihwal manusia yang mulanya tercipta berpasang-pasangan. Mereka melekat menjadi satu dan hidup dalam kebahagiaan tertinggi. Dewa Zeus yang cemburu dan khawatir dengan kekuatan manusia mengutuk manusia dengan cara memisahkan mereka. Semenjak itu, manusia mengembara untuk terus mencari pasangan jiwa yang terpisah.

Kembali pada pemikiran Simone de Beauvoir, ia menegasi penyatuan sebab menurutnya cinta sewajarnya adalah menjaga hubungan dua manusia dengan segala partikularitasnya. Ia menolak cinta yang menihilkan diri sebab itu adalah bentuk ketertundukan. Apakah sikap Beauvoir terlalu sinis tentang cinta? Saya memahaminya justru Beauvoir ingin mengupayakan cinta yang setara, cinta yang menjaga keunikan antara satu dan yang lain. Selanjutnya, Beauvoir menguraikan tentang cinta yang otentik bahwa mencintai secara otentik hanya dapat dilakukan jika telah terbebas dari opresi (Skye Cleary: 2015).

Karena itu, ide Beauvoir tentang cinta yang otentik secara tegas menolak kepemilikan orang yang dicintai. Individu sebagai subjek yang independen mustahil dimiliki secara absolut. Menurut Beauvoir, cinta yang otentik menghargai kebebasan masing-masing dan berkomitmen merawat relasi antarsubjek tersebut. Beauvoir menjelaskan, ”Cinta yang otentik semestinya menerima kontingensi orang yang lainnya, yang berarti segala kekurangan, keterbatasan, dan kelalaian; (cinta ini) tidak akan mengklaim sebagai penyelamat, namun sebagai relasi antarmanusia.” Cinta adalah kesempatan untuk membuka diri secara jujur dan mengalami transformasi bersama.

Relasi cinta di mata Beauvoir adalah pilihan sadar untuk berbagi kehidupan. Namun, alih-alih ketergantungan, cinta otentik menekankan pada kesadaran empatik dan kepedulian untuk saling mendukung. Tidak ada tekanan untuk meleburkan keinginan. Masing-masing menyimpan aspirasi individualnya dan saling menghormati ruang-ruang itu. Ia menggambarkan cinta yang otentik seperti halnya hubungan persahabatan. Kekasih adalah juga sahabat yang dermawan dengan perasaannya, selalu bekerja sama dan turut bahagia melihat pencapaian pasangannya.

Mengapa kerangka berpikir ini penting untuk direnungkan? Mengapa kesetaraan sedemikian perlu kita upayakan dalam relasi cinta? Saya memikirkan fakta-fakta yang begitu menyedihkan terkait prevalensi kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan dalam hubungan berpacaran yang dialami oleh perempuan. Kekerasan terhadap perempuan masih dinormalisasi dalam masyarakat yang dicengkeram oleh budaya patriarki yang sarat akan diskriminasi dan dominasi terhadap perempuan. Beauvoir menyebutkan masokisme yang telah terinternalisasi memaksa perempuan untuk mengecilkan dirinya, selalu mengalah dan menerima perlakuan buruk demi mempertahankan pernikahan maupun hubungan personal. Kekerasan dalam relasi tidak dapat ditoleransi demi alasan apa pun. Kekerasan tersebut menghancurkan kepercayaan dan kesepakatan yang semestinya menjadi fondasi dalam relasi.

Ketimpangan dalam relasi ini tidak saja berakibat penderitaan bagi perempuan, tetapi juga mengungkung laki-laki dalam maskulinitas yang rigid. Padahal, relasi yang intim dan intersubjektif membutuhkan kehadiran antarsubjek yang otonom. Perubahan sosial yang mengarah pada kesetaraan sepatutnya menjadi tekad bersama bagi perempuan dan laki-laki. Beauvoir menitikberatkan cinta yang otentik sebagai bentuk kolaborasi untuk membangun dunia yang lebih baik. (*)




SARAS DEWI, Dosen Filsafat Universitas Indonesia

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore