
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Desember berjejak sajak. Di Indonesia, ratusan atau ribuan orang biasa menulis Desember. Mereka mencatat Desember itu bulan terakhir. Desember menjadi waktu untuk tepuk tangan atau tangisan atas biografi disusun selama setahun. Desember: babak penentuan dengan segala ingatan dan pemaknaan. Desember pun tak selalu baku. Orang-orang bisa mengisahkan campur aduk tanpa patuh ketetapan waktu dan warisan klise-klise.
Pada 1961, Sapardi Djoko Damono menggubah ”Sajak Desember”. Sajak tak terkenal, jarang dikutip para penggemar. Sajak mengenai waktu, manusia, dan Tuhan. Kita membaca: kutanggalkan mantel serta topiku jang tua/ ketika daun penanggalan gugur:/ lewat tengah malam. Kemudian kuhitung/ hutang-hutangku pada-Mu// mendadak terasa: betapa miskinnja diriku/ di luar hudjan pun masih kudengar/ dari tjelah-tjelah tjendela. Ada jang terbaring/ di kursi, letih sekali. Kesadaran diri atas usia, nasib, dan suasana. Ia mengerti Desember menjadi bulan tagihan. Ia mungkin berjanji atau ingin memenuhi segala hasrat. Ia justru merasa berutang. Desember waktu tagihan untuk bisa dilunasi atau ditangguhkan saat diri makin tua dan letih. Waktu makin terlihat di luar jendela. Hujan itu detik-detik berjatuhan memberi seruan waktu.
Desember segera berakhir: kalender lama terbuang digantikan kalender baru. Waktu terlihat di kalender, tapi tanda waktu tak memadai jika cuma kalender. Pada 1993, A. Mustofa Bisri (Gus Mus) menggubah puisi berjudul ”Kalender-Kalender Tua”. Puisi mengenai waktu, mencantumkan tanda-tanda waktu. Cita rasa puisi berkecamuk. Kita membaca dalam ketegangan: Lembar-lembar kalender tua/ Yang sekalipun dengan hati-hati/ Kurobek/ Tercampak juga. Kalender itu kertas-kertas memiliki angka, huruf, dan warna. Tugas kalender lama bakal rampung. Kalender itu fana.
Gus Mus melanjutkan: Menyampah/ Menyumpal tong usia/ Kalaupun menyisakan/ Ruang/ Barangkali tingga serongga/ Duri/ Penyesalan belaka. Manusia dalam ralat bersama kalender. Ia mengerti waktu-waktu berlalu tanpa kepastian pemenuhan menjadi manusia. Diri mungkin setara kalender tak berguna lagi saat waktu terus bergerak. Kalender bisa menjadi ”sampah” berbarengan diri merasa gagal dan bergelimang sesalan. Waktu memberi peringatan dan siksaan bagi diri lengah dan kalah.
Desember dan kalender tak selesai dengan pemaknaan waktu. Desember itu nama. Desember memang berada di akhir. Kalender dalam penentuan nasib. Manusia makin bertaruh dengan nasib.
F. Rahardi tampil dengan sajak berbeda berkaitan Desember. Pada 1969, ia menggubah puisi berjudul ”Doa-Doa Desember”. Desember bulan religius. Desember itu sakral. Puisi dengan biografi religius, tak lupa memicu tawa. Rahardi menulis: kita lihat diri kita: gelap/ kita kecap diri kita: pahit/ kita adalah bayangan-bayangan gelap dan pahit/ kita menulis, kita menangis/ kita ketawa, kita berdoa. Pengakuan diri sebelum sangkalan-sangkalan dan ajuan pengharapan. Desember mirip waktu ”persidangan”.
Doa (agak) serius meski kita membaca secara enteng: Ya, Tuhan/ mengapa Kau tak mau turun untuk/ minum-minum/ bersama kami di kantin ini/ agar kita bisa bicara/ agar kami punya kepastian-kepastian/ di sini. Doa aneh, tapi lugas. Keinginan terlibat percakapan bersama Tuhan. Manusia-manusia dalam bimbang, ragu, dan kepentingan berharap Tuhan berkenan memberi kepastian. Manusia dengan waktu terus melaju merasa tak sabar. Keinginan agar mendapat terang dan manis ketimbang selalu dalam gelap dan pahit. Desember dianggap waktu pemenuhan ingin dan perwujudan perubahan-perubahan.
Kita masih mudah bertemu puisi-puisi waktu atau Desember dalam album sastra Indonesia. Pada 1974, Kuntowijoyo menulis puisi berjudul ”Waktu”. Puisi cukup panjang bagi pembaca mau merenung dalam suasana religius. Pembaca merasa menemukan percikan filsafat atau ingatan bersumber kitab suci. Bait awal terbaca: Engkau dibunuh waktu/ Sekali lupa mengucap selamat pagi/ tiba-tiba engkau sudah bukan engkau lagi/ Waktu membantai bajingan dan para nabi/ kerajaan-kerajaan kitab suci/ peradaban di buku sejarah/ Semua harus menyerah. Manusia bisa kalah oleh waktu. Dalih manusia ”membunuh waktu” dibalik dengan manusia tak berkutik atas kuasa waktu.
Umpama waktu terbaca mencekam. Waktu seolah tampak di hadapan. Pembaca merasa hadir dalam kejadian: Seperti singa lapar/ ia duduk di meja/ sudah mencakarmu/ selagi engkau bersantap// Ssst, pikirkanlah/ bagaimana engkau bisa membunuhnya/ sebelum sempat ia menerkammu. Pertarungan manusia dan waktu. Pertarungan menuntut siasat. Kalah dan menang itu ditentukan ”ketepatan”. Waktu tak lagi sekadar terlihat di kalender. Ingatan waktu bukan cuma Desember.
Empat puisi belum usai mengajak pembaca memikirkan waktu. Puisi-puisi cepat terbaca meski lambat bermakna. Waktu ditulis dengan kata-kata dalam puisi pendek atau panjang dapat dinikmati berulang berdasar penamaan bulan atau keseharian. Di hadapan puisi, kita menjadi pembaca yang tergoda bersalin menjadi penulis waktu. Begitu. (*)
---
BANDUNG MAWARDI, Pedagang buku bekas

Imran Nahumarury Angkat Bicara Usai Semen Padang Kalah dari Persib Bandung
12 Tempat Kuliner Soto Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih
Masih Kekurangan Pegawai Terutama Guru, Pemkab Gresik Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK, Belanja Pegawai Hanya 29 Persen
Sebelum Meninggal, Brian Ardianto 'MasterChef Indonesia' Sempat Minta Maaf dan Singgung Soal Utang
BMKG Prediksi El Nino 2026 di Jatim Lemah, Tak Sekering 2023
Bertemu Menteri PKP Maruarar Sirait di Tanah Abang, Hercules: Lahan Negara Saya Serahkan Hari Ini!
8 Kuliner Tempat Seafood Termantul di Surabaya yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Laut
Mahasiswi Jadi Korban Pelecehan oleh Dosen, Begini Tanggapan Rektor Universitas Budi Luhur
Prediksi Line Up Real Madrid Kontra Bayern Munchen: Kylian Mbappe dan Vinicius di Lini Serang
5 Kuliner Lontong Kupang di Surabaya Ini Paling Laris dan Ramai Pembeli, Penasaran?
