
Ilustrasi Orang yang Terlalu Membanggakan Kecerdasan Emosional Mereka Sendiri
JawaPos.com - Kita semua memahami bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu aspek penting dalam kepribadian manusia, selain kecerdasan intelektual dan spiritual.
Dikutip dari laman Magister Psikologi Universitas Medan Area pada (08/01) kecerdasan emosional ini berkaitan dengan dengan kemampuan diri untuk dapat menerima, memberi penilaian, mengelola, dan mengendalikan emosi yang terdapat pada dirinya maupun orang lain.
Maka idealnya, orang yang memiliki kecerdasan emosional cukup tinggi akan mudah menjalin hubungan bermakna dengan pasangan. Tapi kelebihan mereka justru bisa menjadi jebakan jika tidak dikendalikan.
Berpikir berlebihan secara terus-menerus dapat menyebabkan kesalahpahaman, pertengkaran, dan stres yang tidak perlu dalam hubungan.
2. Menetapkan harapan yang tinggi
Dengan kecerdasan emosional yang tinggi, mereka sangat memahami cara berkomunikasi dengan baik, cara empati harus ditunjukkan, dan pentingnya ketersediaan emosional.
Namun masalahnya, hubungan bukan hanya tentang cara komunikasi dan berempati dengan baik. Mereka sering kali menetapkan ekspektasi pada pasangan, padahal bagaimanapun kita semua manusia yang punya kekurangan.
Menyadari hal ini adalah langkah pertama untuk menciptakan ekspektasi yang lebih sehat dan pada akhirnya, hubungan akan lebih sehat.
Baca Juga: Ditanya Kasus Firli Bahuri, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo: PR yang Harus Dituntaskan
3. Mengambil emosi orang lain
Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam perasaan orang-orang di sekitarnya. Ini bisa menjadi hal indah, serta memungkinkan koneksi dan empati yang kuat.
Seringkali, mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi secara tidak sengaja dapat mengambil alih emosi orang lain. Pencerminan emosi ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan dan stres, terutama bila emosi yang dicerminkan bersifat negatif.
Dalam hubungan, hal ini dapat menimbulkan beban emosional yang berat. Jika pasanganmu sedang kesal, mungkin juga akan merasakan kesedihan yang sama, meskipun masalah tersebut tidak berdampak langsung padamu.
Menyaksikan orang lain mengalami suatu peristiwa emosional mengaktifkan bagian otak yang sama seolah-olah kita sendiri mengalaminya. Hal ini menjelaskan alasan orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mungkin mendapati dirinya menyerap emosi orang lain.
4. Berjuang dengan perawatan diri
Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi sering kali begitu peka terhadap emosi dan kebutuhan orang lain sehingga mengabaikan kebutuhannya sendiri. Sifat rela berkorban ini dapat menyebabkan kelelahan dan kebencian, yang keduanya merusak hubungan.
Ada kesalahpahaman umum bahwa mengurus diri sendiri itu egois. Tapi pada kenyataannya, perawatan diri sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan emosional.
Dalam hubungan, penting untuk menyeimbangkan kepedulian terhadap orang lain dengan kepedulian terhadap diri sendiri. Jika kamu terus-menerus mendahulukan kebutuhan pasangan di atas kebutuhan sendiri, cadangan emosimu mungkin akan terkuras habis.
5. Takut akan konflik
Bagi mereka yang memiliki kecerdasan emosional cukup tinggi, kesadaran yang akut terhadap perasaan terkadang bisa berubah menjadi ketakutan akan konflik.
Mereka dapat merasakan ketegangan yang meningkat, mereka memahami potensi perasaan terluka, dan sering melakukan apapun untuk menghindarinya.
Namun inilah kebenarannya, konflik adalah bagian alami dari hubungan. Ini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan sebuah peluang untuk berkembang dan pemahaman yang lebih dalam.
Menghindari konflik mungkin tampak seperti cara terbaik untuk menjaga perdamaian. Tapi pada kenyataannya, hal ini dapat menimbulkan masalah dan kebencian yang tidak terselesaikan.
6. Kesulitan mengatakan tidak
Orang dengan kecerdasan emosional tinggi terkadang kesulitan menghadapi hal ini karena mereka begitu peka terhadap kebahagiaan orang lain. Mereka dapat melihat bagaimana jawaban 'ya' membuat orang lain merasa senang, dan hal ini sulit untuk ditolak.
Dalam hubungan, hal ini dapat mengarah pada dinamika di mana kebutuhan dan keinginan orang lain selalu diutamakan. Belajar mengatakan tidak adalah keterampilan yang penting.
7. Terlalu berempati
Empati adalah landasan kecerdasan emosional. Hal ini memungkinkan kita untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain, memupuk rasa keterhubungan yang mendalam.
Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi terkadang bisa berempati secara berlebihan. Mereka bisa menjadi begitu tenggelam dalam emosi orang lain sehingga lupa akan perasaan dan kebutuhannya sendiri. Dalam hubungan, hal ini dapat menyebabkan kedinginan dan beban emosional yang berlebihan.
8. Berjuang menerima ketidaksempurnaan
Hal paling penting untuk dipahami adalah kecerdasan emosional yang tinggi terkadang dapat menyebabkan kesulitan dalam menerima ketidaksempurnaan, baik dalam diri sendiri dan orang lain.
Mereka tahu persis tentan kesehatan emosional yang baik, pentingnya komunikasi, dan juga empati. Dari pengetahuannya tersebut sehingga menetapkan standar yang tinggi kepada diri sendiri dan pasangan.
Tapi tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang mempunyai kekurangan dan melakukan kesalahan, dan itu bagian dari menjadi manusia. Menerima ketidaksempurnaan tidak berarti menerima kekurangan dari yang pantas kamu terima, tapi memahami bahwa setiap orang sedang dalam proses, termasuk diri sendiri.
Pada intinya, meskipun kita memiliki kelebihan akan suatu hal, jangan dilakukan secara berlebihan. Kita semua perlu menyadari bahwa manusia adalah makhluk paling kompleks, mereka sulit diatur dengan standar menurut teori kecerdasan emosional.
Melatih diri dengan penuh kesadaran adalah jalan terbaik untuk menjaga kesejahteraan pribadi, semua tidak bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan dan tidak ada salahnya bersikap bodoh amat atas segala tindakan pasangan.
Sejatinya hidup itu perlu keseimbangan, setelah kondisinya sudah mulai kondusif, disitulah kecerdasan emosional berperan untuk menyelesaikan segala konflik yang ada dalam hubungan dan kita lebih mampu menjalani hubungan yang bermakna.
