
Ilustrasi silent treatment (Freepik/Drazen Zigic)
JawaPos.com - Apakah kamu pernah merasa diabaikan oleh seseorang yang dekat, seperti pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja?
Perasaan tersebut tentu tidak nyaman dan membuat bertanya-tanya.
Perlakuan tersebut bisa saja silent treatment yang mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi dampaknya bisa jadi sangat merusak dan tidak baik untuk kesehatan psikologis.
Berikut dampak silent treatment dan cara menghadapinya, mengutip kanal Youtube, Analisa Channel, Selasa (14/1).
Apa Itu Silent Treatment?
Silent treatment adalah perilaku di mana seseorang secara sengaja mengabaikan komunikasi dengan individu lain. Menurut profesor psikologi dari Purdue University, perilaku ini sering digunakan untuk mengendalikan atau memanipulasi situasi. Bentuknya bisa berupa tidak membalas pesan, tidak mengangkat telepon, hingga memblokir seseorang di media sosial.
Dampak Silent Treatment
Penelitian menunjukkan bahwa silent treatment dapat mengaktifkan bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik, yaitu anterior cingulate cortex. Korban biasanya kerap merasa nyeri fisik seperti tegang di leher atau dada. Tentunya bila dibiarkan, hal ini dapat menimbulkan efek jangka panjang termasuk stres emosional, rendahnya keterampilan mengelola konflik, dan kesulitan bekerja sama dalam tim.
Mengapa Orang Melakukan Silent Treatment?
Beberapa orang menggunakan silent treatment sebagai cara menghindari konflik atau melindungi diri dari emosi negatif. Sebenarnya hal ini tidak masalah, namun jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan ini mencerminkan rendahnya kemampuan seseorang dalam menghadapi suatu konflik hingga dapat merusak hubungan.
Cara Mengatasi Silent Treatment
Jika kamu adalah korban atau pelaku silent treatment, ada beberapa langkah yang bisa membantu memperbaiki situasi. Pertama, cobalah untuk melatih komunikasi asertif dengan mengungkapkan perasaan secara jujur tanpa menyakiti orang lain.
Sebagai permulaan, coba tuliskan apa yang ingin disampaikan sebelum berbicara langsung. Lalu, lakukan self-disclosure atau merefleksikan alasan di balik kesulitan memaafkan atau berdamai, coba pahami emosi dirimu terlebih dahulu sebelum akhirnya lebih siap memperbaiki hubungan.
Selain itu, terapkan kolaborasi dan kompromi dengan duduk bersama untuk berbicara dari hati ke hati. Fokuslah pada mencari solusi, bukan menentukan siapa yang salah atau benar. Terakhir, hindari menjadikan silent treatment sebagai kebiasaan negatif. Meski terasa nyaman untuk menghindari konflik, dampaknya justru dapat merenggangkan hubungan dan menurunkan kualitas kehidupan sosialmu.
Dengan melatih komunikasi yang lebih sehat, maka hubungan yang lebih baik akan semakin terbentuk. Jadi, berbicara dari hati ke hati lebih efektif daripada mendiamkan seseorang. Selamat mencoba!
