
angka pecahan desimal pixabay
JawaPos.com - Dalam Pemilu li2019 ini, banyak pelajaran selain politik yang tiba-tiba menyeruak dalam kehidupan kita. Dan, asyiknya, tiba-tiba membuat kita mengingat kembali sebagian pelajaran matematika di bangku sekolah.
Tiba-tiba ada exit poll, quick count, dan real count yang menyajikan angka-angka desimal. Yang selain membuat para pendukung dua kubu calon presiden deg-degan, juga membuat kita bertanya-tanya tentang kebenaran cara baca angka desimal yang sering kita dengar di televisi maupun dalam percakapan keseharian.
Kita ambil contoh ketika ada lembaga survei yang menyajikan prediksi angka kemenangan petahana Joko Widodo sebanyak 55,62 persen. Ada pembaca berita di salah satu stasiun televisi nasional yang membacanya "lima puluh lima koma enam puluh dua persen".
Kok, dua angka sebelum koma dan dua angka sesudah koma dibaca dengan cara yang sama? Bukankah mereka itu berbeda?
Dalam matematika yang kita pelajari di sekolah dasar (SD), kita belajar tentang desimal yang berfokus pada bagaimana menghitung penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian desimal. Dan, harus diakui bahwa menghitung desimal itu sulit.
Sayang, ketika menengok ke dalam buku pelajaran matematika atau lembar kerja siswa, kita akan sulit melihat upaya yang sungguh-sungguh untuk menanamkan konsep membaca bilangan desimal.
Sistem pendidikan dasar kita, tampaknya, menganggap bahwa ketika para siswa sudah mampu menghitung desimal, mereka sudah menguasai konsepnya. Dan, bakal mampu menjelaskannya secara verbal serta tertulis.
Ketika kembali ke inti pelajaran desimal, kita akan menemui angka desimal yang terdiri atas angka sebelum dan sesudah koma. Angka sebelum koma nilai tempatnya adalah "satuan, puluhan, ratusan, ribuan", dan seterusnya. Sebab, angka sebelum koma adalah bilangan bulat. Sementara itu, angka setelah koma, nilai tempatnya adalah "per satuan, per sepuluhan, per seratusan", dan seterusnya. Sebab, angka di belakang koma adalah angka pecahan.
Jadi, berbeda dengan cara membaca bilangan bulat yang selalu diikuti dengan nilai tempatnya, cara paling sederhana dalam membaca desimal adalah dengan membaca setiap angka sesuai dengan urutannya.
Contohnya, untuk angka 55,62 persen, kita membacanya sebagai "lima puluh lima koma enam dua persen". Dua cara baca yang berbeda tersebut dimaksudkan sebagai penanda bahwa bilangan sebelum koma adalah bilangan bulat dan bilangan setelah koma adalah bilangan pecahan.
Ketika kita membaca angka sebelum dan sesudah koma dengan cara yang sama, sangat mungkin kita akan bingung sendiri. Misalnya, kita ambil contoh angka 31,31.
Ketika kita membacanya dengan cara seperti pembaca berita di atas, kita akan mendengar "tiga puluh satu koma tiga puluh satu". Kita bingung karena tidak ada bedanya antara angka sebelum dan sesudah koma. Karena itu, sebaiknya kita membacanya "tiga puluh satu koma tiga satu".
Aturan lain tentang desimal adalah, berbeda dengan bahasa Inggris, jika angka sebelum koma adalah nol, dalam bahasa Indonesia kita harus tetap membacanya. Contohnya, ketika kita membaca 0,1 sebagai "nol koma satu".
Selain aturan baku tersebut, ada segi kepraktisan yang bisa kita lakukan ketika membaca desimal. Yaitu, kita tidak perlu membaca angka nol yang terletak di posisi paling akhir di angka setelah koma.
Contohnya, kita bisa membaca 0,370000 sebagai "nol koma tiga tujuh". Selain itu, masih banyak cara membaca desimal yang berdasar pada aturan matematis yang telah disepakati para ahli matematika.
Ketika kita menengok pada kasus kesalahan baca angka desimal di stasiun televisi, itu menunjukkan belum bulatnya pemahaman kita terhadap konsep matematika. Terutama desimal.
Padahal, sebagai sebuah disiplin ilmu, kita tidak hanya harus mampu mengaplikasikan dan mengonsepnya. Tapi juga selayaknya mampu memaparkannya supaya khalayak memahami isi pikiran matematis kita. (*)
*) Dosen Bahasa Inggris di Program Vokasi Universitas Brawijaya, Pendiri www.simpleenglish.com

Imran Nahumarury Angkat Bicara Usai Semen Padang Kalah dari Persib Bandung
12 Tempat Kuliner Soto Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih
Masih Kekurangan Pegawai Terutama Guru, Pemkab Gresik Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK, Belanja Pegawai Hanya 29 Persen
Sebelum Meninggal, Brian Ardianto 'MasterChef Indonesia' Sempat Minta Maaf dan Singgung Soal Utang
BMKG Prediksi El Nino 2026 di Jatim Lemah, Tak Sekering 2023
Bertemu Menteri PKP Maruarar Sirait di Tanah Abang, Hercules: Lahan Negara Saya Serahkan Hari Ini!
8 Kuliner Tempat Seafood Termantul di Surabaya yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Laut
Mahasiswi Jadi Korban Pelecehan oleh Dosen, Begini Tanggapan Rektor Universitas Budi Luhur
Prediksi Line Up Real Madrid Kontra Bayern Munchen: Kylian Mbappe dan Vinicius di Lini Serang
5 Kuliner Lontong Kupang di Surabaya Ini Paling Laris dan Ramai Pembeli, Penasaran?
