Seloki
di dasar botol itu menumpuk kata-kata
mengendap lama sekali melewati musim-musim tua
sebelum sampai ke meja ini
di mana kau dan aku setia menunggunya
secawan dan secawan lagi sebab lidah tetap menanti
perasaan-perasaan menemukan kata yang pasti
demi merangkak menyentuh bibir-bibir kita
maka kau dan aku akan terus meneguknya
hingga kita menjadi penyair-penyair gelap
setelah menggali musim-musim tua
yang bersembunyi lirih sekali
di dasar dada itu
(2022)
---
Malam Gerimis
malam bertandang di beranda
bersama gerimis yang hilang rintihnya
setiap kali menyentuh permukaan daun
batu-batu juga atap di tidurmu
malam mengetuk-ngetuk pintu mimpimu
siapa tahu kau berkenan membukanya
dan mempersilakan gerimis singgah
tapi kau butuh tempat untuk sembunyi
malam dan gerimis meninggalkan sepimu
pergi mencari penyair-penyair hujan
yang atap di tidurnya masih merintih
dan bait puisinya riuh oleh tik-tik-tik
(2022)
---
Sore dari Beranda
dua anak kecil menepikan bola kaki dan saling menantang bola mata saat sebuah mangga dijatuhkan di tengah permainan dan siapa-siapa memilih kaum yang kawan atau yang lawan, yang pemenang yang paling pantas menggigit buah lalu senja yang jingga berubah menjadi gelanggang.
ada kaum ulat yang bertukar sapa dengan sepi dan perlahan-lahan menyesap dagingnya yang kuning manakala prosesinya terganggu setelah jatuh menghantam tanah dan oleh suara-suara seperti serdadu kecil yang kadang terkekeh kadang berteriak kasar memperebutkan kastil yang sedang dihuni.
seorang penyair duduk di beranda membayangkan dermaga tempat kapal-kapal tua berlayar bersandar dan dua kapal bajak laut saling bertempur menembakkan meriam beradu pedang demi sebuah harta karun yang telah dihancurkan ngengat karat lalu ia mengangkat pena hendak menulis puisinya.
(2022)
---
Kredo
puisi yang tak lagi menyebut namamu adalah kereta yang pulang tengah malam menemukan seorang penyair yang menantinya di ujung stasiun dan mengeluh sebab perjalanan yang jauh dan sama selalu dibatasi sepasang rel, ’’masih ada yang rutin menangis di gerbongku: seorang karyawan yang dihajar pinjaman, seorang istri karena suaminya, dan kawan seorang anak yang bunuh diri.’’ suara penyair berkarat seperti milik masinis tua, ’’orang-orang memang sulit tertawa di dalam kereta, di dalam dirimu.’’ kereta itu lalu melebur riuh dalam puisi memiuh sunyi yang panjang di lembar-lembarku, penyair muda yang berhenti menulis syair cinta sebab tak ingin lagi menyebut namamu.
(2022)
---
SADDAM H.P., Lahir di Kupang, NTT, 21 Mei 1991. Buku puisinya berjudul
Komuni (2019). Dia bergabung di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.