
Gasperini buka suara, mengakhiri spekulasi panjang soal hubungannya dengan Juventus. (juvefc)
JawaPos.com - Juventus sempat menjajaki sejumlah opsi pelatih pada bursa musim panas lalu sebagai bagian dari rencana transisi pasca Igor Tudor. Meski Tudor sukses membawa Bianconeri finis di empat besar dan mengamankan tiket Liga Champions, manajemen klub memilih untuk tidak melanjutkan kerja sama dan mencari figur yang dinilai lebih ambisius untuk memimpin fase baru proyek mereka.
Dalam proses pencarian tersebut, nama Gian Piero Gasperini masuk dalam radar Juventus. Pelatih berusia 66 tahun itu dinilai sebagai kandidat logis, terlebih setelah ia memberi sinyal akan meninggalkan Atalanta usai satu dekade membangun klub tersebut menjadi kekuatan Serie A.
Namun, prioritas utama Juventus saat itu sebenarnya adalah Antonio Conte. Manajemen berharap Conte bersedia kembali ke Turin setelah sukses mengantarkan Napoli meraih gelar juara liga. Conte dipandang sebagai sosok ideal dan akan disambut dengan antusias oleh publik Allianz Stadium.
Harapan tersebut akhirnya pupus setelah Conte memilih bertahan di Napoli untuk satu musim lagi, memaksa Juventus kembali mengevaluasi opsi yang tersedia.
Di saat yang sama, AS Roma juga bergerak cepat membidik Gasperini dan pada akhirnya berhasil mengamankan jasanya. Situasi ini memunculkan anggapan luas bahwa Gasperini telah menolak Juventus demi proyek yang dinilai lebih menarik di ibu kota. Persepsi tersebut kian menguat setelah Gasperini menyebut memilih tantangan yang lebih besar dalam sebuah konferensi pers jelang pertandingan.
Namun, fakta terbaru memberikan sudut pandang berbeda. Laporan Il Bianconero mengungkap bahwa ketertarikan Juventus terhadap Gasperini tidak pernah berkembang hingga tahap penawaran resmi. Disebutkan bahwa Damien Comolli memang sempat menghubungi Gasperini pada musim panas lalu, tetapi komunikasi itu sebatas diskusi awal dan bukan tawaran pekerjaan.
Kontak tersebut dilakukan untuk memasukkan nama Gasperini ke dalam daftar kandidat pelatih yang sedang dievaluasi, bukan sebagai langkah konkret untuk merekrutnya. Dengan demikian, Gasperini sejatinya tidak pernah berada dalam posisi menolak Juventus karena tidak ada tawaran resmi yang diajukan kepadanya.
Pengungkapan ini sekaligus mematahkan narasi yang selama ini berkembang bahwa Gasperini secara aktif menolak Bianconeri. Sebaliknya, Juventus tampaknya tidak pernah membawa ketertarikannya ke tahap lanjutan, sebelum akhirnya memilih arah berbeda dalam penunjukan pelatih.
Pada akhirnya, Juventus dan Gasperini menempuh jalan masing-masing. Bianconeri melanjutkan proyek mereka dengan pilihan lain, sementara Gasperini membuka lembaran baru bersama klub berbeda. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik pencarian pelatih kelas atas, realitas sering kali lebih kompleks dibandingkan cerita yang beredar di permukaan.
