
ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)
Sepak bola dan membaca adalah dua hal yang secara umum saling memunggungi. Benar bahwa kerumunan besar penonton sepak bola adalah pasar, tapi itu lebih cocok untuk lumpia atau air minum kemasan atau pernak-pernik tim, bukan buku atau jurnal. Menulis sepak bola adalah mengisi rak-rak kosong berdebu di perpustakaan sepi yang hanya sesekali dikunjungi.
Dan, ini tak hanya bicara tentang lingkup sepak bola kita. Secara global, sepak bola dan tradisi literasi biasa ada di kubu yang berseberangan. Ini tak lepas dari sejarah asal-usul dan perkembangan sepak bola sendiri.
Muncul dari sekolah-sekolah asrama untuk menanamkan nilai-nilai moral Victorian bagi kelas menengah Inggris pada paro akhir abad ke-19, sepak bola dengan cepat diambil alih kalangan kelas pekerja begitu ia dimainkan. Kalangan terakhir itu pula yang kemudian menyebarkan sepak bola ke seluruh dunia (ini berbeda, misalnya, dengan kriket yang disebarkan kalangan administrator kolonial atau bahkan aristokrat). Asosiasi antara sepak bola dan kaum pekerja itu kemudian bertahan hingga hari ini.
Inggris adalah tempat yang menarik untuk mengamati bagaimana hubungan sepak bola dan tradisi membaca. Negeri asal sepak bola tersebut punya koran dan tabloid yang riuh rendah. Pun punya tradisi unik berkait buku program, pamflet cetak berisi daftar pemain, dan berita terbaru satu tim yang dijual kepada penonton di stadion di setiap pertandingan bagi setiap tim. Juga, yang tak kalah ikonik, sebuah komik setrip bertema sepak bola bertajuk Roy of The Rovers, yang terbit pada 1954. Namun, buku dan penulis yang terhubung dengan sepak bola adalah hal yang langka.
Hingga akhir ’80-an, di Inggris Raya nyaris hanya dua nama yang terhubung dengan sepak bola: Brian Glanville dan Hugh McIlvanney. Keduanya, wartawan olahraga sekaligus novelis, dipuja karena laporan-laporan Piala Dunia-nya.
Hooliganisme di sepanjang dekade ’80-an memperparah kesan keberjarakan sepak bola dan kemelekhurufan. Penonton sepak bola dianggap sebagai kawanan makhluk brutal tak berpendidikan. ’’Matanya macam anjing gila” atau ’’Badannya bau kerupuk bawang” adalah citra yang dilekatkan kepada para hooligan oleh sastrawan Inggris Martin Amis, sebagaimana dikutip Nick Hornby. Citra brutal dan bodoh itulah yang membuat Hornby, seorang suporter fanatik Arsenal sekaligus mahasiswa Cambridge, gusar.
Fever Pitch (1992), memoar Hornby tentang suka-dukanya menjadi penggemar sepak bola, kemudian mengubah masa-masa muram ini. Memenangkan Penghargaan William Hill, penghargaan tertinggi buku olahraga, terjual jutaan kopi, juga diadaptasi dalam dua film, Fever Pitch (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai ’’Keranjingan Bola”, 2022) tak saja dianggap berhasil membela harkat penggemar sepak bola, tapi juga disebut menjadi pelopor bagi kebangkitan penulisan sepak bola setelahnya. Football Against the Enemy (1994) dari Simon Kuper kemudian menjadi penegas era baru ini.
***
Sejak Bola terbit secara mandiri pada 1988, setelah sebelumnya jadi sisipan harian Kompas (1984), tabloid olahraga dengan berita sepak bola sebagai ujung tombaknya membanjiri dan mendominasi lapak-lapak koran. Jika ada pihak yang paling bertanggung jawab terbentuknya satu generasi penggila bola hari ini di Indonesia, itu adalah tabloid-tabloid tersebut.
Ironisnya, sampai terbitan terakhir Bola cetak pada November 2018, yang bisa dianggap menandai akhir dari masa keemasan tabloid-tabloid itu, kita nyaris tak menemukan sisanya, kecuali tumpukan-tumpukan tabloid bekas dan guntingan-guntingan kliping atau poster-poster tua di kamar lama kita. Masa yang sangat riuh itu hanya menghasilkan sangat sedikit buku. Dan lebih sedikit lagi penulis.
Dari nama-nama yang dulu ada di kolom-kolom tabloid, yang bisa diingat memiliki buku adalah Sumohadi Marsis, Lilianto Apriadi, Broto Happy, Arief Natakusumah, dan Rayana Djakasurya. Sayangnya, nyaris keseluruhan buku itu tak berumur panjang atau tak cukup diingat. Kebanyakan (bekas) wartawan lebih nyaman menjadi pengamat di televisi. Sementara sebagian yang lain memilih terlibat dalam faksi-faksi yang berkepentingan dengan sepak bola Indonesia –biasanya secara politik dan biasanya saling bertikai.
Barangkali ini memang bukan problem di kalangan wartawan sepak bola saja, melainkan dunia kewartawanan Indonesia secara umum. Dan barangkali karena itu, sampai belum lama ini, ketika ditanya tentang penulis sepak bola, secara umum orang hanya akan mengingat tiga nama: Gus Dur, Cak Nun, dan Romo Sindhu. Itu menjelaskan dengan sangat gamblang literasi sepak bola kita.
Tentu saja ini bukannya tidak meresahkan. Dan karena itu, sejak pertengahan 2000-an, secara sporadis muncul para penulis sepak bola baru. Kebanyakan mereka masih sangat muda dan berada di luar jalur kewartawanan. Sebagian masih menjejaki cara menulis kolumnis-kolumnis lokal dari masa lalu, sementara sebagian yang lain mencoba mencari acuan dari luar.
Koran-koran cetak membuka diri untuk mereka, tapi media daring, blog, dan media sosial juga tak kalah ramainya oleh tulisan-tulisan mereka. Beberapa portal daring khusus sepak bola, baik yang sungguhan maupun amatiran, muncul di masa ini. Riuh rendah dan gairah sangat terasa hingga setidaknya selama sedekade. Pada saat bersamaan, ada kesadaran baru di kalangan suporter terdidik untuk mulai menulis dan mengarsip. Dan ini kemudian memunculkan gairah untuk menulis tentang klub masing-masing.
Beberapa tulisan itu kemudian menjadi buku. Sekadar menyebut: Zen RS, Edward Kennedy, Darmanto Simaepa, Yusuf Arifin, Mifta Fim, juga saya, dan beberapa nama lain. Beberapa buku itu mendapat sambutan lumayan, didiskusikan atau di-review sejawatnya. Kebanyakan, meminjam judul lagu Melayu, hilang tak berkesan. Tapi, secara umum, buku-buku itu beredar dan dibaca dalam angka yang sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan betapa gilanya masyarakat kita berkait sepak bola.

Imran Nahumarury Angkat Bicara Usai Semen Padang Kalah dari Persib Bandung
12 Tempat Kuliner Soto Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih
Masih Kekurangan Pegawai Terutama Guru, Pemkab Gresik Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK, Belanja Pegawai Hanya 29 Persen
Sebelum Meninggal, Brian Ardianto 'MasterChef Indonesia' Sempat Minta Maaf dan Singgung Soal Utang
BMKG Prediksi El Nino 2026 di Jatim Lemah, Tak Sekering 2023
Bertemu Menteri PKP Maruarar Sirait di Tanah Abang, Hercules: Lahan Negara Saya Serahkan Hari Ini!
8 Kuliner Tempat Seafood Termantul di Surabaya yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Laut
Mahasiswi Jadi Korban Pelecehan oleh Dosen, Begini Tanggapan Rektor Universitas Budi Luhur
Prediksi Line Up Real Madrid Kontra Bayern Munchen: Kylian Mbappe dan Vinicius di Lini Serang
5 Kuliner Lontong Kupang di Surabaya Ini Paling Laris dan Ramai Pembeli, Penasaran?
