
Jalur Pantura kawasan Alas Roban, Jateng. (Antara).
Di kawasan sebelum memasuki Alas Roban dari arah barat, sejumlah pemudik tampak singgah di warung pinggir jalan. Mereka duduk santai, minum, atau sekadar melepas lelah setelah berjam-jam di perjalanan. Salah seorang pemudik, Heri, mengaku menempuh perjalanan dari Cibitung menuju Solo dengan durasi lebih dari 12 jam.
“Dari Cibitung mau ke Solo. Perjalanan bisa 12 jam lebih karena sempat mampir dulu,” ujarnya dilansir dari ANTARA, Kamis (20/3).
Pemudik lainnya, Andre, yang melakukan perjalanan dari Bekasi menuju Sukoharjo, memilih menggunakan sepeda motor karena pertimbangan biaya dan fleksibilitas.
“Kalau pakai motor biayanya lebih murah dan lebih simpel,” katanya.
Ia mengaku perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kemacetan hingga kecelakaan di jalan masih menjadi risiko yang dihadapi.
“Tadi sempat macet di Karawang, juga ada beberapa kecelakaan,” ujarnya.
Saksi Kesunyian Alas Roban
Di tengah perjalanan panjang tersebut, warung-warung di sepanjang jalur Alas Roban tetap menjadi tempat singgah, meski tidak lagi seramai dulu.
Siti Aminah, pedagang yang telah berjualan sejak sekitar 2011, merasakan langsung perubahan tersebut.
“Dulu sebelum ada tol, ramai sekali. Sekarang turun drastis sejak ada tol itu,” katanya.
Menurut dia, perbedaan paling terasa adalah jenis kendaraan yang melintas. Jika dulu mobil pribadi, bus, hingga truk kerap berhenti, kini mayoritas yang singgah adalah pemudik sepeda motor.
“Sekarang kebanyakan pemotor. Kalau mobil kan enak lewat tol,” ujarnya.
Dampaknya terasa pada pendapatan harian yang tidak lagi menentu.
“Kalau sekarang paling Rp50.000 sudah ada, tapi kalau Rp100.000 jarang,” katanya.
Meski demikian, ia tetap bertahan. Menjelang musim mudik, ia masih menambah stok dagangan, meski dengan perhitungan yang lebih hati-hati.
