
Museum Sangiran di dalam kawasan Situs Manusia Purba Sangiran terbagi menjadi lima klaster, yakni Klaster Krikilan, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, Klaster Manyarejo, dan Klaster Dayu. (Istimewa).
JawaPos.com - Situs Manusia Purba Sangiran merupakan salah satu situs arkeologi manusia purba yang ada di Indonesia. Lokasi Situs Manusia Purba Sangiran berada di Kebayanan 1, Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen atau sekitar 19 kilometer dari Kota Solo.
Kebanyakan orang mungkin akan mengira Situs Manusia Purba Sangiran hanya berisi fosil-fosil saja, tetapi Situs Sangiran lebih dari itu.
Beragam jenis peninggalan arkeologis di zaman purba ada di sini, mulai dari fosil makhluk hidup, hasil kebudayaan manusia purba berupa alat-alat dari batu, hingga lapisan tanah yang menunjukan perubahan lingkungan di bumi sejak ratusan tahun lalu.
Semua peninggalan tersebut tersusun rapi di dalam Museum Sangiran.
Museum Sangiran yang terletak di dalam kawasan Situs Manusia Purba Sangiran terbagi menjadi lima klaster, yakni Klaster Krikilan, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, Klaster Manyarejo, dan Klaster Dayu.
Klaster pertama adalah Klaster Krikilan yang menjadi pusat kunjungan atau visitor center bagi para pengunjung dan berisikan informasi mengenai apa saja yang berkaitan dengan Situs Manusia Purba Sangiran.
Klaster Kedua adalah Klaster Bukuran yang akan menceritakan evolusi manusia dan lingkungan yang ada di bumi sehingga Klaster Bukuran akan menampilkan fosil manusia purba dari Sangiran maupun di seluruh dunia.
Klaster Ngebung merupakan klaster yang menampilan perjalanan para peneliti dalam mengeksplorasi potensi yang ada di Situs Manusia Purba Sangiran. Klaster Manyarejo menampilkan audio visual mengenai respon atau ungkapan warga Sangiran sebagai orang yang telah menemukan fosil-fosil di Sangiran semenjak dilibatkan oleh para peneliti.
Klaster kelima adalah Klaster Dayu yang merupakan situs penting karena berisikan jejak kehidupan di zaman purba seperti fosil fauna, manusia serta kebudayaannya, hingga rekaman perubahan lingkungan yang dialami Situs Manusia Purba Sangiran.
Situs Manusia Purba Sangiran bukan hanya dikenal di kalangan masyarakat Indonesia saja, melainkan sudah diakui oleh dunia internasional sebagai situs yang mampu memberikan informasi mengenai perkembangan evolusi makhluk hidup dari zaman lampau hingga saat ini.
Oleh sebab itu, Situs Manusia Purba Sangiran telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dengan nomor 593 tahun 1996 dengan nama The Sangiran Early Man Site.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung dan belajar lebih lanjut mengenai evolusi manusia, Situs Manusia Purba Sangiran buka dari hari Selasa hingga hari Minggu pada jam 08.00-16.00. Hari Senin akan digunakan untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi yang ada di dalam situs.
Harga tiket yang ditawarkan juga terjangkau, yakni Rp15.000 per orang, sudah dapat menikmati wisata edukasi yang ditawarkan situs ini. “Tempatnya seru dan bisa belajar dan mengetahui manusia purba,” kata seorang pengunjung, M Iqbal.
