Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Agustus 2024, 23.35 WIB

(Masih) Menyigi AI dalam Jurnalisme

JOKHANAN KRISTIYONO - Image

JOKHANAN KRISTIYONO

HANYA berselang beberapa waktu dari artikel Suko Widodo dan M. Hasanudin tentang AI (SearchGPT) dan jurnalisme di koran ini (Jawa Pos, 30/7), sebuah laporan The Information menyebut mahalnya biaya yang harus dikeluarkan OpenAI untuk terus mengoperasikan dan mengembangkan AI. Sebuah laporan yang kemudian dikutip beberapa media dengan spekulatif mengenai bangkrutnya Open AI. OpenAI ini adalah perusahaan nonprofit di mana beberapa produk generative AI dilahirkan, termasuk ChatGPT dan SearchGPT.

Tulisan ini tidak akan menelisik lebih dalam pada kemungkinan bangkrutnya OpenAI itu. Melainkan, berkaitan dengan jurnalisme yang menjadi bidang yang penulis beraktivitas di dalamnya.

Merujuk data dari laporan sama yang disampaikan Suko Widodo dan M. Hasanudin, kehadiran mesin pencari dan media sosial memang mengubah lanskap dan pola jurnalisme yang ada. Sebuah ’’perubahan” kecil pada media tayang informasi sukses mengacak-acak dunia media dan jurnalisme. Media tayang yang awalnya hanyalah cetak, radio, dan televisi menjadi platform digital. Ironi dan paradoks terjadi kemudian ketika kualitas informasi dipertanyakan di atas adagium ’’isi di luar tanggung jawab percetakan”.

Kebutuhan Informasi Berkualitas

Salah satu alasan kuat penulis menegaskan bahwa jurnalis dan media cetak tidak akan kehilangan tempat di dunia digital dengan kehadiran AI adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan informasi yang berkualitas masih sangat tinggi. Reuters Digital News Report 2024 masih menunjukkan hal ini. Bahwa konten sintetis yang dihasilkan dari AI umumnya sangat rendah kualitasnya sehingga secara hipotesis, audiens pasti akan merespons secara positif jika ada informasi lain yang lebih berkualitas.

Sampai saat ini, setidaknya, produk informasi (berita, khususnya) yang berkualitas hanya bisa dihasilkan dengan penerapan metode jurnalistik yang valid dan tetap berpegang pada kode etik. Jurnalisme akan menghasilkan konten informasi yang dibangun di atas fondasi akurasi, keberimbangan, dan transparansi. Sebab, tujuan jurnalistik tidak hanya berhenti pada menyajikan informasi, tapi lebih jauh dari itu, yakni informasi tersebut bisa dipertanggungjawabkan serta memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat.

Kebutuhan akan informasi yang berkualitas, dalam pemikiran penulis, juga terlihat dari semakin tingginya persentase news avoidance atau news fatigue yang terjadi di masyarakat. Laporan Reuters Digital News Report 2024 secara global menunjukkan 39 persen dari respondennya menyatakan bahwa mereka terkadang atau sering secara sengaja menghindari berita, naik 3 persen dari tahun sebelumnya. Angka tersebut, merujuk laporan yang sama, tidak jauh berbeda dengan hasil surveinya di Indonesia yang menunjukkan angka 38 persen. Merasa sangat terbebani (overload) dengan berita adalah salah satu penyebabnya, yang kemudian memengaruhi situasi mental dan mood seseorang.

Tantangan dan Peluang AI

Ada kekhawatiran bahwa media cetak akan terlalu bergantung pada kecerdasan buatan untuk bersaing dengan jurnalisme digital, yang dapat mengakibatkan jurnalisme berkualitas rendah. Algoritma kecerdasan buatan mungkin tidak selalu memahami konteks budaya atau moral saat melaporkan suatu peristiwa, yang dapat menyebabkan bias atau misinformasi. Satu hal yang penulis bersepakat dengan Suko Widodo dan M. Hasanudin bahwa rekan-rekan jurnalis dan praktisi media tidak boleh kehilangan momentum dengan kehadiran AI.

Sebagai peluang efisiensi, AI dapat digunakan untuk otomatisasi tugas-tugas biasa seperti penyusunan data, transkripsi wawancara, atau bahkan penulisan laporan dasar. Jurnalis dapat lebih fokus pada investigasi mendalam, analisis kritis, dan penulisan kreatif, yang membutuhkan sentuhan manusia. Berita yang lebih informatif, personal, dan relevan dengan masyarakat yang semakin terhubung secara digital dapat dibuat dengan memanfaatkan big data dalam produksi berita. Jurnalis harus merespons dengan cepat berita yang sedang berlangsung dan memublikasikan pembaruan di tempat. Ketersediaan data online dalam jumlah besar telah memunculkan jurnalisme data.

AI dapat membantu menemukan topik mana yang paling diminati pembaca dan kemudian menyesuaikan konten sesuai dengan preferensi individu. Ini memberikan kesempatan bagi media cetak untuk mempertahankan pembaca yang setia dan menarik pembaca baru, terutama di era saat pengguna lebih terbiasa dengan pengalaman yang dipersonalisasi di platform digital.

Media cetak dapat melihat AI sebagai mitra daripada ancaman. Jurnalis dapat menggunakan teknologi ini untuk menganalisis data yang kompleks, memverifikasi kebenaran, dan bahkan membantu dalam pelaporan investigasi. AI dapat membantu jurnalis menemukan pola dalam big data yang mungkin terlewatkan, ini menjadi peluang jurnalis menemukan cerita baru. AI juga dapat menjadi alat yang kuat untuk membantu media cetak menyesuaikan diri dengan lanskap media yang terus berubah jika digunakan dengan benar.

Menggabungkan teknologi ini dengan bijak dan memanfaatkannya tanpa mengorbankan kualitas dan integritas jurnalistik menjadi hal yang teramat penting untuk bertahan di era AI. Karena itu, media cetak masih dapat memainkan peran penting dalam menyediakan informasi yang akurat dan mendalam kepada masyarakat meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan sebelumnya.

Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan yang dramatis atas disrupsi teknologi ini bagi jurnalisme sebagaimana yang penulis tangkap dari opini Suko Widodo dan M. Hasanudin. (*)


*) JOKHANAN Kristiyono, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu KomunikasiAlmamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore