
Gautam Adani mempercepat ekspansi bisnis pusat data, menjajaki kemitraan dengan Meta dan Google di tengah lonjakan kebutuhan infrastruktur AI global. (Bloomberg)
JawaPos.com — Konglomerat India milik miliarder Gautam Adani terus memperluas langkahnya di sektor infrastruktur digital. Melalui bisnis pusat data yang tengah berkembang pesat, Adani dilaporkan menjajaki kemitraan dengan raksasa teknologi Amerika Serikat, termasuk Meta Platforms Inc. dan Google.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Adani Group dalam membangun fondasi ekonomi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) dan layanan komputasi awan. Dengan memanfaatkan portofolio bisnisnya dari pelabuhan hingga energi, grup ini berupaya menyediakan lahan dan energi terbarukan yang dibutuhkan oleh pusat data berskala besar.
Dilansir dari Bloomberg, Kamis (26/3/2026), sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan, “Gautam Adani sedang dalam pembicaraan dengan raksasa teknologi Amerika, termasuk Meta Platforms Inc. dan Google, untuk menjalin kemitraan dalam bisnis pusat data yang berkembang pesat.” Pembicaraan ini disebut masih bersifat awal dan belum menghasilkan keputusan final.
Selain itu, perusahaan e-commerce Flipkart yang dimiliki Walmart Inc. juga dilaporkan terlibat dalam penjajakan kerja sama dengan Adani. Pada saat yang sama, Adani Group tengah mengeksplorasi sejumlah lokasi di berbagai negara bagian India sebagai kandidat pembangunan pusat data.
Meski demikian, detail lokasi dan struktur kerja sama belum ditetapkan. Sumber yang sama menegaskan bahwa seluruh pembicaraan masih dalam tahap awal dan bersifat privat, sehingga belum dapat dipublikasikan secara rinci. Hal ini menunjukkan bahwa proyek masih berada pada fase penjajakan, bukan eksekusi.
Di tengah laporan itu, India memang semakin menarik bagi investor global. Skala ekonomi yang besar serta pertumbuhan digital yang cepat menjadikan negara ini sebagai tujuan utama pengembangan infrastruktur teknologi. Kondisi ini juga mempertegas meningkatnya kebutuhan pusat data untuk mendukung lonjakan penggunaan AI dan layanan cloud.
Namun, dinamika global tidak sepenuhnya tanpa risiko. Dari Tiongkok, muncul kekhawatiran terkait potensi kelebihan kapasitas. Wakil Ketua Alibaba Group Holding Ltd., Joe Tsai, secara terbuka mengingatkan bahwa lonjakan pembangunan pusat data berpotensi tidak efisien. Dia menegaskan, “Saya mulai melihat awal dari semacam gelembung (bubble) dalam pembangunan pusat data, karena banyak proyek yang terlihat duplikatif.”
Di sisi lain, Adani telah memiliki kerja sama sebelumnya melalui AdaniConnex Pvt., perusahaan patungan dengan EdgeConneX. Pada Oktober lalu, entitas ini mengumumkan kemitraan dengan Google untuk mengembangkan pusat infrastruktur AI besar di Visakhapatnam, dengan nilai investasi sekitar 15 miliar dolar AS atau setara Rp 253,6 triliun (kurs Rp 16.910 per dolar AS).
Pembicaraan terbaru ini menandai potensi fase investasi lanjutan di luar komitmen yang telah diumumkan sebelumnya. Namun, perwakilan Adani Group, Meta, dan Walmart menolak memberikan komentar. Sementara itu, juru bicara Alphabet Inc. menyatakan bahwa perusahaan “tidak memiliki investasi baru untuk dibahas saat ini.”
Di tengah minimnya konfirmasi resmi tersebut, persaingan di sektor ini justru kian terlihat nyata. Reliance Industries Ltd. milik Mukesh Ambani telah menandatangani kesepakatan senilai 11 miliar dolar AS untuk pembangunan pusat data. Sementara itu, Tata Consultancy Services Ltd. memperoleh pendanaan 1 miliar dolar AS dari TPG Inc. guna mempercepat ekspansi di sektor serupa.
Tidak hanya di tingkat domestik, tekanan kompetisi juga datang dari pemain global. Amazon.com Inc. berencana menginvestasikan 12,7 miliar dolar AS hingga 2030 untuk memperluas infrastruktur cloud melalui Amazon Web Services (AWS) di India, termasuk pembangunan pusat data dan peningkatan kapasitas komputasi guna mendukung lonjakan permintaan kecerdasan buatan dan layanan digital. Pada saat yang sama, OpenAI juga tengah menjajaki pembangunan pusat data berkapasitas besar di kawasan tersebut.
Kondisi ini menegaskan bahwa persaingan membangun infrastruktur digital kini semakin terkonsentrasi di pasar negara berkembang seperti India, seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap kapasitas komputasi berbasis kecerdasan buatan.
***
