
Sejumlah industri mengalami kontraksi sepanjang April 2023. Di antaranya, industri barang logam, industri tekstil, dan industri aneka.
JawaPos.com - Sejumlah industri mengalami kontraksi sepanjang April 2023. Di antaranya, industri barang logam, industri tekstil, dan industri aneka. Berdasar laporan indeks kepercayaan industri (IKI), salah satu faktor penyebab sektor-sektor itu terkoreksi adalah berkurangnya pesanan dalam negeri.
Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka Kemenperin Reni Yanita menyatakan, pihaknya melakukan berbagai strategi untuk mendorong pasar industri-industri tersebut. Di antaranya, melakukan kerja sama dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) maupun bersama atase perdagangan.
Selain itu, meningkatkan literasi digital produsen dalam negeri dan penguasaan pasar domestik dengan kebijakan tingkat kandungan dalam negeri untuk industri kecil (TKDN IK). "Hal ini dilakukan agar industri kecil dapat mengikuti penyedia barang dan jasa serta masuk dalam e-katalog. Selain itu, dilakukan fasilitasi sertifikasi SNI untuk industri kecil dan membantu meningkatkan pemasaran dengan mengikuti pameran," papar Reni.
Sektor industri barang logam bukan mesin dan peralatannya mengalami kontraksi seusai ekspansi. Tren yang sama tercatat di sektor industri tekstil, pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri kayu, serta industri barang galian bukan logam yang mengalami kontraksi.
"Isu serbuan impor masih mendominasi di tengah lemahnya daya saing produk dalam negeri," kata Reni.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyoroti kontraksi pada ekspor sektor industri pengolahan. Pihaknya melihat, sejak akhir 2022 ekspor produk bernilai tambah atau ekspor produk manufaktur akan mengalami tekanan kontraksi demand yang signifikan sepanjang tahun ini.
Penyebabnya, kondisi pengetatan moneter dan risiko krisis ekonomi tinggi di pasar-pasar tujuan ekspor utama, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). (agf/c14/fal)
